Kembali ke Blog
Parenting 11 Februari 2026

Stop Bilang 'Dasar Pemalas!' - Ternyata Otak Anak Cuma Kebanyakan 'Tabs'

Stop Bilang 'Dasar Pemalas!' - Ternyata Otak Anak Cuma Kebanyakan 'Tabs'

Pernah Nggak Sih, Ayah Bunda Merasa...

Pernah nggak sih, Ayah Bunda melihat anak duduk di depan meja belajar, buku terbuka lebar, tapi tatapannya kosong melompong ke dinding? Atau lebih parah lagi, bukannya mengerjakan PR Matematika yang besok dikumpulkan, dia malah asyik mainin ujung pensil atau coret-coret nggak jelas di kertas buram. Di detik itu, darah rasanya langsung naik ke ubun-ubun ya. Kalimat sakti yang sering keluar biasanya: "Kamu tuh ya, disuruh belajar malah malas-malasan! Kapan mau pintarnya kalau begini?"

Saya paham banget rasanya. Kita capek kerja seharian, berharap pulang ke rumah lihat anak produktif, eh malah disuguhi pemandangan 'kaum rebahan'. Tapi, izinkan saya mengajak Ayah Bunda mundur selangkah. Tarik napas dulu. Sebelum label 'PEMALAS' itu kita tempel permanen di jidat mereka, pernah nggak terpikir kalau anak kita itu sebenarnya bukan malas? Dia cuma lagi overwhelmed. Dia lagi macet.

anak terlihat lelah dan bingung

Teori 'Browser Tabs' di Kepala Anak

Coba bayangkan laptop Ayah Bunda. Kalau kita buka Google Chrome, lalu kita buka 50 tabs sekaligus—ada YouTube, ada email kerjaan, ada berita politik, ada resep masakan, ada video kucing—apa yang terjadi? Laptopnya bakal lemot, kursornya muter-muter, dan akhirnya nge-hang alias beku. Nggak bisa diapa-apain. Apakah laptopnya rusak? Belum tentu. Apakah laptopnya 'malas' bekerja? Jelas tidak. Itu cuma masalah kapasitas RAM yang penuh.

Nah, otak anak-anak kita, terutama yang masuk usia sekolah (SD akhir sampai SMA), persis seperti itu. Di luar, kelihatannya mereka cuma diam bengong. Tapi di dalam kepalanya? Wah, itu ributnya minta ampun! Ada tab "PR Matematika Susah Banget", tab "Tadi diejek teman di sekolah", tab "Takut dimarahin Bunda kalau nilai jelek", tab "Pengen main game level 5", sampai tab "Suara Ayah lagi tinggi nadanya". Semuanya terbuka sekaligus. Akibatnya? System failure. Mereka mengalami kelumpuhan analisis. Mereka tahu harus belajar, tapi otak mereka nggak bisa mengirim perintah ke tangan untuk mulai menulis. Jadi, diamnya mereka itu bukan tanda pembangkangan, tapi tanda minta tolong.

Bahayanya Label 'Pemalas'

Masalahnya, kalau di saat 'hang' begitu kita malah menuduh mereka malas, itu ibarat laptop lagi lemot malah kita gebrak-gebrak keyboard-nya. Nggak akan bener, malah makin rusak. Kata "Malas" itu jahat banget, lho. Itu menyerang identitas. Kalau anak terus-terusan dibilang malas, lama-lama dia akan mengamini: "Oh, ya udah, aku emang anak pemalas kok. Ngapain juga berusaha?" Habis deh motivasi belajarnya.

Cara Menutup 'Tabs' Satu per Satu

Lalu solusinya gimana? Kita perlu bantu mereka tekan tombol Refresh atau menutup beberapa tabs yang nggak penting. Saran aku sih, jangan paksa mereka langsung 'lari' ngerjain soal.

Pertama, validasi dulu perasaannya. Coba dekati pelan-pelan, elus punggungnya, terus bilang: "Kak, kelihatannya lagi pusing banget ya? Banyak banget ya yang dipikirin?" Kalimat sederhana ini ajaib banget. Biasanya bahu mereka yang tegang bakal langsung turun. Mereka merasa dimengerti, bukan dihakimi.

ibu menemani anak belajar dengan sabar

Kedua, ajak Brain Dump. Minta mereka keluarkan semua uneg-unegnya. "Apa sih yang bikin berat? Tugasnya kebanyakan? Atau takut salah?" Biarkan mereka ngomong. Saat mereka bercerita, itu sama kayak menutup tab-tab sampah di otak mereka. Beban RAM-nya jadi berkurang.

Ketiga, gunakan teknik 'Potong Gajah'. PR 50 soal itu menakutkan (seperti gajah). Tapi kalau kita bilang, "Oke, kerjain 2 nomor aja dulu, habis itu boleh minum es teh manis," itu jauh lebih masuk akal buat otak mereka. Begitu 2 nomor selesai, biasanya dopamin (hormon puas) bakal muncul, dan tanpa sadar mereka lanjut ke nomor 3, 4, dan seterusnya. Tugas kita cuma mendorong mobil mogok ini di tanjakan pertama, habis itu dia bakal jalan sendiri.

Jadilah Partner, Bukan Mandor

Jadi Ayah Bunda, mulai malam ini, yuk kita ubah cara pandang kita. Kalau lihat anak bengong depan buku, jangan langsung emosi. Ingat analogi laptop tadi. Mereka butuh bantuan buat 'restart', bukan butuh omelan tambahan yang justru bikin sistem mereka makin crash.

Dan kalau Ayah Bunda bingung cari cara biar materi pelajaran nggak terasa 'berat' dan bikin nge-hang, coba deh manfaatkan teknologi yang pas. Fitur simulasi di LatihanOnline.com itu didesain supaya anak nggak merasa lagi dihakimi. Soal-soalnya dibuat interaktif, jadi rasanya lebih ringan kayak main kuis, bukan kayak ujian hidup mati. Lumayan banget buat bantu mereka 'pemanasan' sebelum ngerjain tugas sekolah yang sesungguhnya. Semangat ya, jadi orang tua memang butuh stok sabar seluas samudera!

Sudah paham materinya?

Yuk uji pemahamanmu sekarang dengan mengerjakan latihan soal yang sesuai.

Latihan Soal Sekolah