Kembali ke Blog
Self Development 17 Januari 2026

Gaji 5 Juta Tapi Gaya Hidup 10 Juta? Berhenti Siksa Diri!

Gaji 5 Juta Tapi Gaya Hidup 10 Juta? Berhenti Siksa Diri!

Terjebak di Antara 'Self Reward' atau Gali Lubang?

Pernahkah Anda duduk di depan layar ATM, melihat angka di saldo yang tinggal beberapa digit, lalu menghela napas panjang padahal tanggal gajian masih dua minggu lagi? Kita semua pernah di sana. Tiba-tiba kita teringat kopi mahal yang kita beli kemarin, atau baju baru yang sebenarnya hanya dipakai untuk satu kali foto di Instagram. Ada sebuah dorongan aneh di zaman sekarang: kita merasa harus terlihat sukses di mata orang lain, meskipun di dalam kamar, kita sedang bingung bagaimana cara membayar tagihan kartu kredit bulan depan. Fenomena 'fake it till you make it' sudah berubah menjadi 'fake it till you broke'. Kita terjebak dalam lingkaran setan yang kita sebut sebagai gaya hidup, padahal sebenarnya itu adalah bentuk siksaan perlahan bagi kesehatan mental kita. Kenapa ya, kita lebih takut dianggap miskin oleh orang asing daripada benar-benar tidak punya uang untuk masa depan kita sendiri? Pertanyaan ini seringkali mampir di pikiran saya saat melihat banyak teman yang terlihat sangat bahagia di media sosial, namun curhat tentang stres finansial saat bertemu secara langsung.

Orang pusing melihat tagihan belanja

Analogi Perahu yang Bocor demi Estetika

Bayangkan Anda sedang berada di tengah laut menggunakan sebuah perahu. Perahu itu punya lubang kecil, tapi alih-alih menambalnya, Anda justru sibuk mengecat perahu itu dengan warna emas dan memasang hiasan mewah agar orang-orang di kapal pesiar sebelah melihat Anda hebat. Itulah yang terjadi saat kita memaksakan gaya hidup di atas kemampuan. Kita sibuk memoles tampilan luar, sementara 'kebocoran' finansial di dalam terus membesar. Kita tahu perahu ini akan tenggelam, tapi kita terlalu gengsi untuk mulai menguras air atau menambal lubangnya karena itu terlihat tidak keren. Di dunia karir dan pergaulan, seringkali kita merasa bahwa penampilan adalah segalanya. Kita merasa kalau tidak pakai HP terbaru atau tidak nongkrong di tempat hits, kita akan dikucilkan. Padahal, percayalah, orang-orang yang kita coba buat kagum itu sebenarnya tidak terlalu peduli pada kita. Mereka juga sedang sibuk memoles 'perahu' mereka sendiri agar tidak terlihat bocor di depan Anda. Kita semua sedang memainkan sandiwara yang melelahkan.

Seni Mengatakan 'Gak Ada Budgetnya'

Salah satu keterampilan hidup yang paling sulit dipelajari di era gempuran diskon online shop adalah kemampuan untuk berkata: 'Maaf, saya tidak punya budget untuk itu sekarang'. Kalimat ini terdengar sederhana, tapi rasanya berat sekali diucapkan, bukan? Ada rasa malu, ada rasa takut dianggap tidak asik. Tapi jujur saja, di LatihanOnline kami sering melihat bahwa orang-orang yang benar-benar sukses justru mereka yang sangat pelit pada pengeluaran yang tidak perlu. Mereka tidak peduli dengan tren yang lewat sebulan sekali. Mereka punya prioritas. Kita perlu belajar bahwa menolak ajakan nongkrong atau menunda membeli barang baru bukanlah sebuah kehinaan. Itu adalah bentuk harga diri. Menghargai keringat yang kita keluarkan saat bekerja dengan tidak membuangnya begitu saja demi validasi receh. Coba sesekali kita jujur pada teman-teman, 'Eh, bulan ini budget mainku sudah habis, di rumah saja ya?'. Teman yang baik tidak akan meninggalkan Anda hanya karena Anda tidak ikut makan siang di restoran mahal.

Menghitung uang dengan sederhana

Gaya Hidup Adalah Jebakan Dopamin

Kenapa sih belanja itu enak banget? Jawabannya sama dengan kenapa anak-anak suka HP: dopamin. Saat kita memasukkan barang ke keranjang atau membayar di kasir, otak kita memberikan hadiah berupa rasa senang sesaat. Masalahnya, kesenangan itu hanya bertahan beberapa jam. Besoknya, kita butuh 'dosis' baru untuk merasa bahagia lagi. Itulah kenapa lemari kita penuh dengan barang yang label harganya masih menempel, atau sepatu yang baru dipakai sekali tapi sudah terasa membosankan. Kita sedang mencoba mengisi kekosongan hati dengan benda mati. Padahal, rasa aman yang sesungguhnya datang dari saldo darurat yang cukup, bukan dari banyaknya barang bermerek di rumah. Saya sering merenung, berapa banyak waktu hidup yang kita tukar hanya untuk membeli barang-barang yang akhirnya hanya jadi sampah di gudang? Jika kita bekerja 8 jam sehari, maka setiap barang yang kita beli sebenarnya bernilai sekian jam dari umur kita. Apakah tas itu benar-benar layak ditukar dengan 40 jam kelelahan Anda di kantor?

Kembali ke Dasar: Cukup Itu Di Mana?

Kita perlu mendefinisikan ulang kata 'cukup'. Standar cukup tiap orang itu beda, tapi standar sosial seringkali memaksa kita mengikuti angka orang lain. Kalau tetangga ganti mobil, kita merasa perlu ganti juga. Kalau teman kerja ganti tas, kita merasa tas kita sudah usang. Padahal fungsi tas adalah membawa barang, dan fungsi mobil adalah berpindah tempat. Selama fungsi itu terpenuhi, sisanya hanyalah ego. Di titik ini, biasanya kita mulai sadar bahwa kebahagiaan itu sebenarnya murah, yang mahal itu adalah pamer. Menjalani hidup yang lebih sederhana atau frugal living bukan berarti kita jadi orang yang sengsara. Justru sebaliknya, kita jadi orang yang bebas. Bebas dari kejaran cicilan, bebas dari rasa cemas saat tanggal tua, dan bebas dari ketergantungan pada pendapat orang lain. Bayangkan betapa nyenyaknya tidur Anda saat tahu bahwa meskipun besok kantor tutup, Anda masih punya tabungan untuk makan selama satu tahun ke depan. Itu adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan merek apapun.

Bersantai dengan tenang di rumah

Membangun Mental Kaya yang Sesungguhnya

Mental kaya bukan berarti punya banyak uang untuk dihamburkan, tapi punya kontrol penuh atas setiap rupiah yang keluar. Orang yang mentalnya kaya tahu kapan harus menahan diri. Mereka fokus membangun aset, bukan menambah liabilitas. Mari kita mulai evaluasi lagi, apa saja pengeluaran 'sampah' yang selama ini kita anggap normal. Apakah itu langganan aplikasi yang tidak pernah ditonton? Ataukah kebiasaan jajan sore yang kalau ditotal bisa buat cicilan rumah? Jangan remehkan pengeluaran kecil, karena lubang kecil itulah yang menenggelamkan kapal besar. Kita punya pilihan untuk terus menjadi budak gaya hidup atau mulai menjadi tuan atas keuangan kita sendiri. Perjalanannya mungkin tidak estetik untuk diposting di media sosial, karena menabung itu membosankan dan tidak terlihat mewah. Tapi hasilnya akan terasa saat Anda menghadapi badai kehidupan yang tak terduga.

Saya ingat ucapan seorang bijak, bahwa kekayaan itu adalah apa yang tidak Anda lihat. Kekayaan adalah mobil yang tidak jadi dibeli, baju bermerek yang tetap di toko, dan perhiasan yang tidak jadi Anda bayar. Itulah uang yang benar-benar Anda miliki. Jadi, mulai besok, saat Anda tergoda untuk membeli sesuatu hanya karena ingin terlihat 'wah' di depan teman-teman, coba tarik napas dalam-dalam. Tanya pada diri sendiri: 'Saya beli ini untuk kebutuhan saya, atau untuk memberi makan ego saya?'. Jika jawabannya adalah ego, maka letakkan kembali barang itu. Berikan diri Anda hadiah berupa rasa tenang, bukan sekadar barang baru. Anda tidak perlu membuktikan apa-apa kepada siapapun. Hidup Anda bukan kompetisi siapa yang paling keren di linimasa. Hidup Anda adalah tentang bagaimana Anda bisa bertahan dan merasa cukup dengan apa yang ada di tangan. Mari kita mulai hidup jujur, hidup yang apa adanya, dan lihatlah betapa jauh lebih ringannya langkah kaki kita saat tidak lagi menggendong beban ekspektasi orang lain.

Sudah paham materinya?

Yuk uji pemahamanmu sekarang dengan mengerjakan latihan soal yang sesuai.

Latihan Soal Sekolah