Ruang Tamu, Secangkir Kopi, dan Perdebatan Seragam Cokelat
Pernahkah kita duduk di meja makan, lalu tiba-tiba pembicaraan bergeser ke arah masa depan anak? Rasanya hampir setiap orang tua di Indonesia punya memori yang sama: membayangkan anak kita berangkat kerja dengan seragam rapi, status pegawai tetap, dan jaminan hari tua yang aman. Kabar tentang pembukaan CPNS 2025 sudah mulai berhembus, dan seketika radar kita sebagai orang tua menyala. Ada rasa tenang yang aneh saat membayangkan anak kita menjadi abdi negara. Kita merasa tugas kita sebagai orang tua selesai jika mereka sudah 'aman' secara finansial. Namun, sebelum kita menyodorkan formulir pendaftaran atau membelikan buku latihan soal yang tebalnya seperti bantal, mari kita tarik napas sejenak. Apakah ini mimpi mereka, atau sebenarnya sisa-sisa ketakutan kita tentang masa depan yang belum selesai kita proses?

Bukan Sekadar Status, Ini Tentang Panggilan Hati
Menjadi PNS atau PPPK di tahun 2025 bukan lagi soal duduk manis di balik meja dan menunggu jam pulang. Dunia sudah berubah, dan birokrasi kita pun sedang bertransformasi. Kita sering melihat tetangga yang anaknya lolos seleksi dan merasa iri, lalu tanpa sadar menekan anak kita sendiri. Padahal, karir di pemerintahan saat ini menuntut integritas dan daya tahan mental yang luar biasa. Jika anak kita memiliki jiwa kreatif yang meledak-ledak atau ingin tantangan yang berubah setiap hari, memaksa mereka masuk ke dalam sistem yang terstruktur rapat bisa jadi adalah 'penjara' emas bagi mereka. Kita perlu bertanya, apakah sifat asli si buah hati cocok dengan ritme kerja seorang abdi negara? Jangan sampai kita hanya mengejar gengsi di arisan keluarga, tapi membiarkan anak kita layu di dalam kantor yang tidak mereka cintai.

Gagal Seleksi Bukan Berarti Gagal Jadi Anak yang Baik
Realita pahitnya adalah, dari jutaan pendaftar, hanya segelintir yang akan mendapatkan NIP. Di sinilah peran kita sebagai jangkar emosional diuji. Seringkali, saat anak gagal dalam tes CPNS, mereka merasa telah mengecewakan seluruh keluarga. Wajah kita yang terlihat murung saat mendengar pengumuman 'tidak lolos' adalah luka yang lebih dalam bagi mereka daripada kegagalan itu sendiri. Kita harus ingat bahwa seleksi ini hanyalah satu dari seribu jalan menuju kesuksesan. Jika tahun ini keberuntungan belum berpihak, atau jika anak kita lebih memilih jalur BUMN, menjadi guru melalui PPG, atau bahkan membangun usaha sendiri, pastikan mereka tahu bahwa cinta kita tidak bersyarat pada pekerjaan mereka. Menjadi orang tua yang suportif di tengah keriuhan musim seleksi 2025 adalah hadiah terbesar yang bisa kita berikan untuk kesehatan mental mereka.

Mendampingi Tanpa Mengatur, Mendukung Tanpa Mendikte
Jadi, apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua? Jadilah teman diskusi yang hangat. Alih-alih berkata 'Pokoknya kamu harus daftar!', cobalah bertanya 'Apa yang sebenarnya kamu cari dalam sebuah pekerjaan?'. Jika mereka memang ingin berbakti lewat jalur pemerintahan, dukung mereka dengan doa dan fasilitas belajar yang memadai. Namun, jika mereka ragu, berikan mereka ruang untuk bereksplorasi. Dunia kerja masa depan sangat luas, dan nilai seorang anak tidak ditentukan oleh selembar SK. Mari kita jaga hubungan kita dengan anak agar tetap erat, melampaui segala hiruk pikuk pendaftaran pegawai negeri yang akan segera tiba. Karena pada akhirnya, saat kita tua nanti, bukan jabatan anak yang akan menemani kita, melainkan kehangatan hubungan yang kita bangun hari ini.
