Kembali ke Blog
Self Development 19 Januari 2026

Orang Sukses Tertawa Melihat Cara Kita Kerja & Belajar

Orang Sukses Tertawa Melihat Cara Kita Kerja & Belajar

Sibuk Itu Bukan Berarti Produktif, Lho!

Coba deh ingat-ingat momen kemarin. Anda mungkin duduk di depan laptop selama sepuluh jam, melewatkan makan siang, dan merasa sangat lelah saat malam tiba. Di kepala Anda, itu adalah medali keberanian: 'Gila, aku kerja keras banget hari ini!'. Tapi jujur saja, kalau kita bedah lagi, berapa banyak dari sepuluh jam itu yang benar-benar menghasilkan sesuatu yang signifikan? Mungkin dua jam dipakai membalas email yang sebenarnya tidak mendesak, tiga jam terdistraksi media sosial, dan sisanya habis untuk meeting yang pembahasannya muter-muter. Di mata orang yang benar-benar sukses, cara kita menghabiskan waktu seperti ini mungkin terlihat lucu, atau bahkan menyedihkan. Mereka melihat kita seperti orang yang sedang berusaha menguras laut dengan sendok teh; berpeluh keringat tapi air lautnya tidak berkurang sedikitpun. Kita seringkali merasa bangga dengan 'kesibukan', padahal kesibukan seringkali hanyalah bentuk dari manajemen prioritas yang buruk.

Seseorang sibuk dengan banyak tugas

Analogi Penebang Pohon dengan Kapak Tumpul

Bayangkan ada dua orang penebang pohon. Penebang pertama langsung menghantamkan kapaknya ke pohon selama delapan jam tanpa henti. Dia kelelahan, tangannya melepuh, dan pohonnya cuma tergores sedikit. Penebang kedua? Dia duduk santai selama enam jam hanya untuk mengasah kapaknya sampai setajam silet, lalu menebang pohon itu hanya dalam waktu satu jam. Sisa waktunya? Dia pakai untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga. Kita seringkali menjadi penebang pohon yang pertama. Kita merasa tidak punya waktu untuk 'mengasah kapak' (belajar cara baru, memperbaiki sistem kerja, atau beristirahat). Kita merasa belajar itu membuang waktu yang seharusnya dipakai untuk kerja. Padahal, orang sukses tahu bahwa satu jam yang dihabiskan untuk strategi bisa memangkas sepuluh jam kerja otot. Mereka tertawa melihat kita yang terus-menerus memukul pohon dengan kapak tumpul sambil mengeluh kenapa hidup ini begitu berat.

Kenapa Kita Hobi Banget Menyiksa Diri?

Ada semacam glorifikasi terhadap penderitaan di masyarakat kita. Kita merasa kalau tidak menderita, berarti tidak berusaha. Belajar sampai begadang dianggap keren, kerja sampai sakit dianggap dedikasi. Padahal, otak kita punya batas maksimal untuk fokus. Orang sukses tidak bekerja lebih keras secara fisik, mereka bekerja lebih cerdas secara sistem. Mereka tidak membaca seluruh buku pelajaran, mereka hanya mencari inti sari yang bisa langsung dipraktekkan. Sementara kita? Kita membaca dari halaman satu sampai akhir tanpa tahu apa yang mau dicari, lalu lupa semuanya esok hari. Kita menghabiskan energi untuk hal-hal administratif yang bisa didelegasikan atau diotomatisasi. Kita lebih mementingkan terlihat sibuk di depan bos daripada memberikan hasil nyata yang membuat perusahaan untung. Itulah rahasia yang jarang dibicarakan: efisiensi adalah tentang membuang apa yang tidak perlu, bukan menambah apa yang bisa dikerjakan.

Tim profesional yang efektif

Jebakan Belajar Tanpa Praktek (The Learning Trap)

Di LatihanOnline, kami sering melihat orang yang hobinya mengoleksi sertifikat dan ikut webinar setiap minggu, tapi hidupnya tidak berubah. Kenapa? Karena mereka terjebak dalam rasa aman palsu. Membaca buku tentang bisnis membuat kita merasa sudah berbisnis, padahal kita baru saja mengonsumsi konten. Orang sukses tertawa melihat tumpukan buku di meja kita yang tidak pernah berubah menjadi aksi nyata. Mereka lebih memilih belajar satu hal hari ini, lalu langsung mencobanya meskipun gagal, daripada belajar seribu hal tapi hanya disimpan di kepala. Belajar tanpa praktek itu seperti menonton video orang olahraga di gym; otot Anda tidak akan tumbuh hanya dengan menonton. Kita perlu berhenti menjadi kolektor informasi dan mulai menjadi praktisi. Fokuslah pada 20% ilmu yang memberikan 80% hasil, itulah hukum Pareto yang selalu dipakai oleh mereka yang berada di puncak.

Mengelola Energi, Bukan Sekadar Mengatur Waktu

Manajemen waktu itu omong kosong kalau Anda tidak bisa mengelola energi. Anda bisa punya jadwal yang sangat rapi, tapi kalau Anda mengerjakannya saat otak sedang lelah, hasilnya akan medioker. Orang sukses tahu kapan waktu 'prime time' mereka. Jika mereka paling fokus di jam 5 pagi, mereka akan mengerjakan tugas tersulit saat itu dan mematikan semua gangguan. Sementara kita? Kita mengerjakan tugas tersulit saat sudah mengantuk di malam hari, sambil menonton TV, dan berharap hasilnya sempurna. Kita seringkali membuang energi terbaik kita untuk hal-hal sepele seperti memikirkan komentar orang di media sosial atau berdebat di grup WhatsApp. Di titik ini, biasanya kita sadar bahwa kekayaan yang paling berharga bukan uang, melainkan fokus. Siapa yang bisa menguasai fokusnya, dialah yang akan menguasai masa depannya.

Seseorang merenung dengan tenang

Keberanian untuk Mengatakan 'Tidak'

Satu perbedaan mencolok antara kita dan mereka yang sudah sukses adalah kemampuan berkata tidak. Kita sering merasa tidak enak untuk menolak ajakan teman, menolak tugas tambahan yang bukan porsi kita, atau menolak tawaran bisnis yang kelihatannya menguntungkan tapi tidak sesuai visi. Akhirnya, energi kita terbagi-bagi menjadi serpihan kecil yang tidak bertenaga. Orang sukses sangat selektif. Mereka melindungi waktu mereka seperti singa melindungi anaknya. Mereka tahu bahwa setiap kali mereka berkata 'iya' pada hal yang tidak penting, mereka sebenarnya sedang berkata 'tidak' pada impian mereka sendiri. Kita mungkin menganggap mereka sombong atau tertutup, tapi sebenarnya mereka hanya sangat menghargai hidup mereka yang terbatas ini. Berhentilah mencoba menyenangkan semua orang, karena pada akhirnya, Anda lah yang bertanggung jawab atas kegagalan Anda sendiri.

Membangun Sistem, Bukan Sekadar Ambisi

Ambisi tanpa sistem hanyalah mimpi di siang bolong. Kita seringkali terlalu fokus pada gol akhir: 'Aku ingin kaya', 'Aku ingin jadi manajer'. Tapi kita tidak punya sistem harian yang mendukung itu. Orang sukses tertawa melihat kita yang hanya bersemangat di awal tahun saat membuat resolusi, tapi kembali ke kebiasaan lama di minggu kedua Januari. Mereka tidak fokus pada gol, mereka fokus pada sistem. Jika sistemnya benar, gol akan datang dengan sendirinya secara otomatis. Misalnya, alih-alih bermimpi menulis buku, mereka membangun sistem untuk menulis 500 kata setiap pagi setelah minum kopi. Itulah yang membedakan pemenang dan pecundang. Pemenang memiliki sistem yang mereka jalankan bahkan saat mereka sedang malas, sementara pecundang hanya bekerja saat mereka merasa 'termotivasi'.

Kadang saya sendiri juga tertawa melihat diri saya di masa lalu yang merasa sangat hebat karena pulang kantor paling malam. Padahal itu cuma tanda bahwa saya tidak kompeten mengelola pekerjaan saya di jam kerja normal. Mari kita mulai jujur pada diri sendiri. Apakah selama ini kita benar-benar sedang membangun masa depan, atau kita hanya sedang melakukan teater kesibukan agar terlihat penting di mata orang lain? Dunia tidak butuh lebih banyak orang yang sibuk; dunia butuh orang-orang yang bisa memberikan solusi dengan cara yang paling efektif. Berhenti menyiksa diri dengan cara-cara lama yang tidak membuahkan hasil. Mulailah asah kapak Anda, tentukan prioritas, dan beranilah untuk mengambil jarak dari kegaduhan yang tidak perlu. Karena pada akhirnya, kesuksesan bukan tentang siapa yang paling lelah, tapi tentang siapa yang paling cerdik menaruh energinya. Sudahkah Anda mengasah kapak hari ini? Ataukah Anda masih sibuk memukul pohon dengan kapak tumpul yang sama?

Sudah paham materinya?

Yuk uji pemahamanmu sekarang dengan mengerjakan latihan soal yang sesuai.

Latihan Soal Sekolah