Kembali ke Blog
Sekolah 17 Januari 2026

Anak Malas Belajar? Mungkin Kita yang Salah Kasih 'Menu'

Anak Malas Belajar? Mungkin Kita yang Salah Kasih 'Menu'

Drama Buku Tulis dan Muka Cemberut

Pernah tidak, Anda duduk di meja makan menemani anak mengerjakan PR matematika, tapi suasananya lebih mirip medan perang daripada sesi belajar? Kita sudah menjelaskan berkali-kali sampai suara serak, tapi si anak malah asyik menggambar di pinggiran buku atau matanya kosong menatap jendela. Setiap kali kita tanya 'Sudah paham belum?', jawabannya cuma gelengan kepala atau malah tangisan yang pecah. Di titik itu, rasanya kita ingin menyerah saja. Kita mulai membandingkan dengan zaman kita sekolah dulu yang rasanya lebih 'nurut'. Kita khawatir, kalau begini terus, bagaimana masa depan mereka nanti? Tapi jujur saja, pernahkah kita mencoba memposisikan diri di kursi mereka? Kursi yang keras, tumpukan buku yang tebalnya minta ampun, dan deretan angka atau sejarah yang rasanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan hidup mereka sehari-hari.

Anak stres belajar di meja

Analogi Menanam Pohon di Tanah yang Keras

Memaksa anak belajar tanpa membangun rasa penasaran itu ibarat kita mencoba menanam bibit mangga di atas aspal beton. Seberapa banyak pun air yang kita siram (atau dalam hal ini, seberapa keras pun kita mengomel), bibit itu tidak akan pernah tumbuh. Yang ada malah bibitnya mati dan aspalnya tetap keras. Otak anak itu seperti tanah yang subur, tapi dia harus digemburkan dulu dengan rasa ingin tahu. Masalahnya, kurikulum sekolah seringkali menyajikan materi seperti bongkahan batu besar yang langsung dilempar ke kepala anak. Mereka disuruh menghafal nama pahlawan atau rumus luas trapesium tanpa tahu untuk apa semua itu. Saat anak bertanya 'Bu, buat apa aku belajar ini?', dan kita cuma jawab 'Pokoknya biar pintar!', di situlah motivasi mereka mati seketika. Mereka butuh alasan yang nyata, bukan sekadar nilai di atas kertas raport.

Kenapa YouTube Lebih Pintar Mengajar daripada Kita?

Sadar atau tidak, anak-anak bisa betah berjam-jam nonton video eksperimen sains di YouTube, tapi mendadak mengantuk saat baca buku paket. Kenapa? Karena konten digital tahu cara 'menjual' informasi. Ada ceritanya, ada visualnya, dan ada antusiasmenya. Sementara kita, seringkali mendampingi anak belajar dengan aura 'beban'. Kita menemani mereka sambil sesekali melirik jam atau memegang HP, seolah-olah sesi belajar ini adalah hukuman bagi kita juga. Anak merasakan energi itu. Mereka merasa belajar adalah sebuah kegiatan yang menjemukan karena orang tuanya pun tidak terlihat menikmati proses berbagi ilmu itu. Di LatihanOnline, kami sering melihat bahwa anak-anak yang paling bersemangat belajar adalah mereka yang orang tuanya punya rasa ingin tahu yang sama besarnya. Mereka tidak cuma menyuruh, tapi juga ikut bertanya 'Eh, kenapa ya pelangi warnanya cuma tujuh?'.

Guru menjelaskan dengan ceria

Berhenti Fokus pada Nilai, Mulailah Fokus pada Proses

Kesalahan terbesar kita adalah terlalu mendewakan angka. Kalau anak dapat nilai 60, kita langsung panik dan memanggil guru les. Padahal, mungkin di angka 60 itu, si anak sudah berjuang setengah mati untuk memahami konsep yang sulit baginya. Saat kita hanya fokus pada hasil, anak akan belajar untuk 'menipu' sistem. Mereka menghafal hanya untuk ujian, lalu melupakannya sejam kemudian. Mereka belajar karena takut dimarahi, bukan karena haus ilmu. Coba sesekali kita ubah pertanyaannya. Jangan tanya 'Dapat nilai berapa tadi di sekolah?', tapi tanya 'Hal keren apa yang kamu tahu hari ini yang Ibu belum tahu?'. Berikan mereka ruang untuk menjadi 'guru' bagi kita. Saat anak menjelaskan sesuatu kepada orang lain, di situlah pemahaman terdalam mereka terbentuk. Dan yang paling penting, mereka merasa dihargai, bukan sekadar dinilai.

Menciptakan 'Ritual' Belajar yang Manusiawi

Belajar tidak harus selalu duduk kaku di kursi kayu. Kenapa tidak mencoba belajar gravitasi sambil main lempar bola di taman? Atau belajar pecahan sambil memotong pizza di dapur? Kita perlu membawa pelajaran keluar dari halaman buku dan membawanya ke dunia nyata. Dunia adalah laboratorium terbesar bagi anak. Jika mereka merasa belajar itu menyenangkan dan relevan, mereka akan mencarinya sendiri tanpa perlu kita teriak-teriak. Kita juga perlu memberikan mereka 'hak untuk gagal'. Jangan biarkan anak merasa bahwa berbuat salah saat belajar adalah dosa besar. Justru dari kesalahan itulah otak mereka belajar paling banyak. Kalau mereka salah hitung, jangan langsung dikoreksi. Ajak mereka mencari di mana letak kelirunya. Jadikan proses belajar itu seperti petualangan mencari harta karun, bukan seperti diinterogasi polisi.

Ayah dan anak membaca buku bersama

Menghadapi Kelelahan Mental Anak

Kita sering lupa kalau anak-anak juga bisa stres. Jadwal sekolah yang padat dari pagi sampai sore, ditambah tumpukan tugas, bikin mental mereka lelah. Kadang, saat mereka mogok belajar, itu bukan karena mereka malas, tapi karena 'tangki' energi mereka sudah kosong. Di saat seperti ini, memaksa mereka hanya akan merusak hubungan kita dengan mereka. Tidak apa-apa untuk memberi mereka jeda. Biarkan mereka main sebentar, bernapas, atau sekadar melamun. Kita bukan sedang membesarkan robot yang harus produktif 24 jam. Kita sedang membesarkan manusia. Kehadiran kita di samping mereka saat mereka kesulitan mengerjakan PR seharusnya menjadi sumber ketenangan, bukan sumber tekanan tambahan. Pelukan kecil dan kalimat 'Sini, kita kerjakan pelan-pelan sama-sama' jauh lebih berharga daripada seribu rumus yang dihafal dengan hati yang dongkol.

Menanamkan Rasa Cinta Belajar Sepanjang Hayat

Tujuan akhir dari sekolah bukan sekadar ijazah, tapi agar anak punya mentalitas pembelajar. Dunia berubah begitu cepat. Apa yang mereka pelajari di buku hari ini mungkin sudah basi sepuluh tahun lagi. Tapi kalau mereka punya rasa cinta untuk mencari tahu, mereka akan selamat di masa depan. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Kapan terakhir kali anak melihat kita membaca buku dengan serius atau mempelajari keterampilan baru dengan antusias? Kita adalah cermin bagi mereka. Jangan harap anak rajin belajar kalau kita sendiri menghabiskan seluruh waktu luang hanya untuk scroll media sosial tanpa tujuan. Mari kita bangun suasana rumah yang penuh diskusi, penuh buku, dan penuh rasa kagum terhadap ilmu pengetahuan. Perjalanan ini memang tidak mudah, dan seringkali kita kehilangan kesabaran di tengah jalan. Itu manusiawi.

Saya ingat suatu malam saat saya menemani anak saya yang frustrasi karena tidak bisa menghafal tabel perkalian. Saya sudah hampir meledak, tapi saya lihat matanya mulai berkaca-kaca. Dia berkata, 'Aku takut Ayah marah kalau aku nggak bisa'. Seketika hati saya luluh. Ternyata beban yang dia bawa jauh lebih berat dari soal matematika itu sendiri: beban ekspektasi saya. Sejak itu saya sadar, hubungan saya dengan dia jauh lebih penting daripada nilai matematikanya. Kami tutup bukunya, kami pergi keluar cari martabak, dan di jalan kami hitung potongan martabak itu bareng-bareng. Dia tertawa, dan besoknya, dia jauh lebih mudah memahami perkalian karena hatinya sudah tenang. Jadi, orang tua hebat, jangan biarkan buku pelajaran jadi tembok pemisah antara Anda dan buah hati. Jadilah teman seperjalanan mereka dalam menemukan keajaiban dunia ini. Karena pada akhirnya, yang akan mereka ingat bukan rumus fisika yang Anda ajarkan, tapi rasa hangat saat Anda duduk di samping mereka menghadapi kesulitan bersama-sama.

Sudah paham materinya?

Yuk uji pemahamanmu sekarang dengan mengerjakan latihan soal yang sesuai.

Latihan Soal Sekolah