Kembali ke Blog
Sekolah 20 Januari 2026

Nilai Bahasa Indonesia Jelek? Kamu Salah Cara Membaca!

Nilai Bahasa Indonesia Jelek? Kamu Salah Cara Membaca!

Ironi di Balik Bahasa Ibu yang Menjebak

Pernah tidak, Anda merasa sangat percaya diri saat menghadapi ujian Bahasa Indonesia, tapi begitu hasil raport keluar, nilainya justru paling rendah dibanding matematika? Ini adalah luka lama yang sering dialami banyak pelajar. Kita merasa, 'Ah, ini kan bahasa sehari-hari, pasti gampang'. Kita meremehkan, kita tidak belajar seserius saat menghafal rumus fisika, dan akhirnya kita terjebak dalam rasa percaya diri palsu. Saat duduk di kursi ujian, kita membaca teks yang panjangnya minta ampun, tapi mata kita hanya sekadar lewat di atas barisan kata-kata itu tanpa ada satu pun makna yang nyangkut di kepala. Kita membaca satu paragraf, sampai di akhir, lalu lupa apa yang diomongkan di awal. Akhirnya kita mengulang baca lagi, dan lagi, sampai waktu ujian habis. Masalahnya bukan karena Anda tidak bisa berbahasa Indonesia, tapi karena kita seringkali 'merasa sudah membaca' padahal sebenarnya kita hanya sedang melihat huruf.

Pelajar bingung membaca buku teks tebal

Analogi Menonton Film Tanpa Suara

Membaca teks panjang dalam ujian Bahasa Indonesia tanpa teknik yang benar itu ibarat kita menonton film aksi tapi suaranya di-mute. Kita lihat ada orang lari-larian, ada ledakan, ada ekspresi marah, tapi kita tidak tahu apa masalahnya. Kita hanya dapat visualnya, bukan ceritanya. Kebanyakan dari kita membaca teks ujian seperti membaca novel di waktu senggang: mengalir saja. Padahal, teks ujian itu bukan untuk dinikmati, tapi untuk dibedah. Di sana ada jebakan ide pokok, ada kalimat penjelas yang menyamar jadi jawaban, dan ada kata-kata bermakna ganda yang siap menjerumuskan kita. Jika cara membaca kita masih 'mode santai', maka wajar saja jika jawaban kita seringkali meleset. Kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap teks Bahasa Indonesia, dari sekadar bacaan menjadi sebuah teka-teki yang harus dipecahkan kepingan-kepingannya.

Penyakit 'Skimming' yang Kurang Gizi

Di zaman media sosial yang serba cepat, otak kita terbiasa melakukan skimming atau baca cepat hanya untuk mencari kata kunci. Kita terbiasa baca caption singkat atau judul berita yang clickbait. Kebiasaan ini terbawa sampai ke meja ujian. Saat melihat teks satu halaman penuh, otak kita panik dan langsung ingin cepat-cepat selesai. Kita 'loncat-loncat' mencari jawaban tanpa memahami konteks secara utuh. Di LatihanOnline, kami sering menemukan bahwa banyak nilai jelek bukan karena soalnya sulit, tapi karena peserta salah menangkap maksud dari kalimat tanya. Mereka tahu jawabannya ada di sana, tapi karena tidak teliti membaca instruksi seperti 'kecuali' atau 'manakah yang tidak termasuk', mereka memilih jawaban yang paling terlihat benar di mata mereka yang sedang terburu-buru. Membaca cepat itu bagus, tapi membaca tepat itu jauh lebih penting.

Diskusi kelompok membahas soal bahasa

Strategi 'Mencuri' Jawaban Sebelum Membaca Teks

Salah satu trik yang sering dilupakan adalah membaca soalnya dulu sebelum menyentuh teksnya. Ini seperti kita pergi ke supermarket dengan daftar belanjaan; kita tahu apa yang dicari, jadi kita tidak perlu muter-muter di lorong yang tidak perlu. Saat Anda sudah tahu pertanyaannya tentang 'amanat' atau 'latar tempat', otak Anda akan secara otomatis menyalakan radar saat mata Anda melewati bagian teks yang relevan. Jangan habiskan energi untuk memahami setiap detail yang tidak ditanyakan. Jadilah pembaca yang efisien. Anda tidak perlu menjadi ahli sastra untuk mendapatkan nilai 90, Anda hanya perlu menjadi 'detektif' yang tahu di mana letak bukti-bukti yang dibutuhkan untuk menjawab soal. Teknik ini menghemat waktu dan mencegah otak Anda mengalami kelelahan informasi sebelum ujian berakhir.

Kekayaan Kosakata: Senjata yang Sering Tumpul

Jujur saja, kapan terakhir kali Anda membuka kamus? Banyak pelajar yang gagal karena mereka tidak tahu arti kata-kata formal yang sering muncul di soal. Kata seperti 'implikasi', 'kontradiksi', atau 'signifikan' seringkali dianggap sebagai hiasan belaka, padahal itu adalah kunci jawaban. Kita terlalu sering menggunakan bahasa gaul sampai-sampai bahasa baku terasa seperti bahasa asing bagi kita sendiri. Di sinilah pentingnya banyak membaca literasi yang sedikit lebih berat dari sekadar status media sosial. Cobalah sesekali baca berita atau artikel opini. Semakin kaya kosakata Anda, semakin cepat Anda memproses kalimat yang rumit. Anda tidak akan lagi terjebak pada kalimat yang diputar-putar oleh pembuat soal, karena Anda sudah paham inti bahasanya.

Buku-buku sastra di perpustakaan

Logika Bahasa vs Perasaan

Kesalahan fatal lainnya adalah menjawab soal berdasarkan 'perasaan' atau opini pribadi, bukan berdasarkan apa yang tertulis di teks. Kita seringkali merasa setuju dengan sebuah pilihan jawaban karena itu sesuai dengan nilai moral kita, padahal di dalam teks, jawabannya justru berbeda. Ingat, ujian Bahasa Indonesia adalah ujian logika, bukan ujian kepribadian. Anda harus bisa memisahkan apa yang Anda pikirkan dengan apa yang penulis katakan. Jika penulis bilang bumi itu kotak di dalam teksnya, maka untuk soal tersebut, jawabannya adalah kotak. Jangan biarkan idealisme Anda merusak akurasi jawaban. Disiplin dalam mengikuti data yang ada di teks adalah kunci utama untuk mendapatkan nilai sempurna.

Melatih Fokus di Tengah Gempuran Distraksi

Membaca teks panjang butuh stamina fokus yang kuat. Sayangnya, rentang perhatian (attention span) kita makin hari makin pendek karena terbiasa dengan video durasi singkat. Saat harus membaca narasi yang lambat di soal ujian, otak kita merasa bosan dan mulai melamun. Untuk mengatasi ini, cobalah latihan membaca tanpa gangguan selama 15 menit setiap hari. Bacalah apapun yang butuh pemikiran mendalam. Latihan ini akan memperkuat otot fokus Anda, sehingga saat hari ujian tiba, membaca satu halaman teks bukan lagi menjadi beban yang membuat Anda ingin cepat-cepat tidur. Kemampuan untuk tetap tenang dan fokus di bawah tekanan waktu adalah hal yang membedakan juara kelas dengan yang lainnya.

Kadang saya merasa prihatin melihat anak-anak yang begitu jago matematika tapi merasa bodoh saat pelajaran bahasa. Padahal, bahasa adalah alat untuk memahami semua ilmu lainnya. Bagaimana Anda bisa mengerjakan soal cerita matematika kalau logikanya saja sudah bingung? Bagaimana Anda bisa memahami instruksi kerja di masa depan kalau membaca laporan saja sudah pusing? Belajar Bahasa Indonesia bukan cuma soal lulus ujian, tapi soal kemampuan kita berkomunikasi dan memahami dunia. Jangan lagi anggap enteng bahasa kita sendiri. Mari kita mulai belajar membaca lagi, bukan sebagai rutinitas, tapi sebagai keterampilan bertahan hidup di dunia yang penuh dengan informasi simpang siur ini. Jika Anda bisa menguasai cara membaca yang benar, nilai raport hanyalah bonus dari pemahaman yang lebih luas.

Sudah siap untuk membuka kembali buku paket Bahasa Indonesia Anda malam ini? Jangan cuma dilihat, tapi dibedah. Cari ide pokoknya, temukan kata-kata sulitnya, dan tantang diri Anda untuk merangkum isinya dalam satu kalimat. Anda akan terkejut betapa menyenangkannya saat kita benar-benar paham apa yang kita baca. Ingat, tidak ada orang yang lahir langsung pintar membaca, semuanya adalah soal latihan dan kemauan untuk tidak cepat merasa puas. Hari ini mungkin nilai Anda masih rendah, tapi dengan sedikit perubahan teknik, siapa tahu Anda lah yang nanti akan menjelaskan materi ke teman-teman Anda. Selamat berjuang, para pejuang literasi! Jangan biarkan bahasa sendiri menjadi musuhmu di sekolah.

Sudah paham materinya?

Yuk uji pemahamanmu sekarang dengan mengerjakan latihan soal yang sesuai.

Latihan Soal Sekolah