Ada sebuah paradoks menyakitkan yang terjadi dalam dunia sertifikasi guru di Indonesia. Bayangkan skenario ini: Pak Budi, seorang guru senior yang sudah mengajar selama 25 tahun, dicintai murid-muridnya, dan dianggap tetua di sekolahnya, justru TIDAK LULUS tes UP PPG (Uji Pengetahuan Pendidikan Profesi Guru). Sementara itu, Bu Ani, guru muda yang baru mengajar 3 tahun, justru lulus sekali tes dengan nilai tinggi.
Apakah Bu Ani lebih hebat mengajar daripada Pak Budi? Belum tentu. Di lapangan, Pak Budi mungkin jauh lebih piawai mengendalikan kelas.
Namun, PPG—khususnya Uji Pengetahuan—bukanlah tes praktik lapangan. Ini adalah tes Logika Akademik dan Teori Pedagogik. Masalah utama guru senior bukanlah kurang kompeten, melainkan terjebak dalam "Experience Trap" (Jebakan Pengalaman). Mereka menjawab soal menggunakan 'insting lapangan', sementara sistem penilaian menggunakan 'kunci jawaban teoritis'. Mari kita bedah 7 jurang pemisah yang membuat guru senior sering terperosok.
1. Benturan "Realita Lapangan" vs "Kelas Ideal"
Soal-soal PPG didesain berdasarkan kondisi Kelas Ideal sesuai teori. Di sinilah guru senior sering "tertipu".
Contoh Soal: "Saat Anda sedang menerangkan materi sulit, ada siswa yang gaduh dan melempar kertas. Tindakan Anda adalah..."
- Jawaban Guru Senior (Realistis): "Menegur siswa tersebut dengan tegas agar kelas kembali kondusif." (Karena di lapangan, cara ini paling cepat dan efektif).
- Jawaban Kunci PPG (Teoritis): "Mendekati siswa tersebut (proximity), melakukan kontak mata, dan mencari tahu penyebab perilaku tersebut setelah kelas usai."
Guru senior cenderung memilih solusi pragmatis (yang penting kelas tenang). Namun, pedagogik modern menuntut pendekatan humanis dan psikologis. Di mata sistem tes, menegur keras dianggap "Teacher Centered" dan otoriter, sehingga poinnya rendah.
2. Gagap Istilah: Melakukan Tapi Tak Tahu Namanya
Banyak guru senior yang sebenarnya sudah menerapkan metode canggih, tapi tidak tahu nama ilmiahnya. PPG adalah ujian terminologi.
Pak Budi sering memberikan bantuan bertahap kepada siswa yang lambat belajar, lalu perlahan melepasnya saat siswa mulai paham. Itu praktek yang bagus. Tapi ketika soal bertanya: "Teori belajar apa yang diterapkan Pak Budi?", beliau bingung.
Padahal jawabannya adalah Scaffolding (Teori Vygotsky). Kegagalan menghubungkan praktek nyata dengan istilah akademis (Konstruktivisme, Behaviorisme, Kognitivisme) adalah pembunuh nilai terbesar di sesi Pedagogik.
3. Miskonsepsi HOTS (Dikira Soal Susah)
Istilah HOTS (Higher Order Thinking Skills) sering disalahartikan sebagai "Soal yang sangat sulit dan rumit". Akibatnya, saat menyusun RPP atau menjawab soal perancangan pembelajaran, guru senior sering membuat soal yang "menjebak" atau hitungan angka yang keriting.
Padahal, HOTS adalah tentang level kognitif C4 (Menganalisis), C5 (Mengevaluasi), dan C6 (Mencipta). Soal sederhana pun bisa jadi HOTS jika menuntut siswa bernalar, bukan sekadar menghafal. Guru yang masih terpaku pada level C1-C3 (Hafalan & Pemahaman) akan kesulitan menjawab soal studi kasus perancangan evaluasi.
Bukan "Seberapa sulit jawabannya", tapi "Seberapa kompleks proses berpikirnya".
Kata kerja operasional (KKO) seperti "Sebutkan" (Low) vs "Bandingkan" (High) adalah kuncinya.
4. TPACK: Teknologi Bukan Sekadar Proyektor
Konsep TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) adalah menu wajib PPG masa kini. Guru senior sering merasa sudah menerapkan TPACK hanya karena mereka mengajar menggunakan PowerPoint.
Ini keliru. TPACK menuntut integrasi teknologi yang mengubah cara belajar. Jika PowerPoint hanya berisi teks pindahan dari buku, itu bukan TPACK, itu hanya "papan tulis digital". Soal PPG akan menguji apakah guru bisa memilih aplikasi yang tepat untuk materi tertentu (misal: Geogebra untuk Matematika, Duolingo untuk Bahasa), bukan sekadar asal pakai alat digital.
5. Reading Fatigue (Lelah Membaca)
Faktor fisik tidak bisa bohong. Soal UP PPG berjumlah ratusan dengan narasi soal cerita yang sangat panjang (bisa 1-2 paragraf per soal). Guru senior sering mengalami kelelahan mata dan penurunan konsentrasi setelah 30 menit pertama.
Akibatnya, mereka mulai menggunakan teknik "baca cepat" yang tidak akurat, atau melewatkan kata kunci penting seperti "kecuali", "tindakan awal", atau "yang paling tepat". Ini bukan masalah kecerdasan, tapi masalah stamina literasi.
6. Jebakan "Guru Pahlawan" (Teacher Centered)
Kurikulum Merdeka dan pedagogik abad 21 sangat mengagungkan Student Centered Learning (SCL). Guru hanya fasilitator. Namun, guru senior yang terbiasa menjadi "satu-satunya sumber ilmu" di kelas sering terjebak memilih jawaban yang menonjolkan peran guru.
Jika ada soal: "Siswa kesulitan memahami materi fotosintesis. Apa yang Anda lakukan?"
• Opsi A: Menjelaskan ulang dengan gambar yang lebih bagus (Teacher Centered).
• Opsi B: Mengajak siswa keluar kelas mengamati daun dan berdiskusi (Student Centered / Inquiry).
Guru senior sering memilih A karena merasa itu tanggung jawabnya untuk menjelaskan. Padahal sistem menginginkan jawaban B.
7. Kurangnya Update Regulasi Terbaru
Dunia pendidikan berubah cepat. Istilah RPP berubah jadi Modul Ajar. KKM berubah jadi KKTP. Ujian Nasional dihapus jadi ANBK. Guru senior yang "kudet" (kurang update) dan masih menggunakan paradigma Kurikulum 2013 atau KTSP akan kesulitan menjawab soal-soal yang basisnya sudah Kurikulum Merdeka.
Solusi:
Bapak/Ibu guru senior, Anda punya emas yang tidak dimiliki guru muda: Insting Manajemen Kelas. Sekarang, tugas Anda hanyalah "membalut" insting tersebut dengan jubah teori modern. Jangan musuhi teorinya, tapi pelajari polanya. Turunkan ego pengalaman, dan mulailah berpikir seperti pembuat soal: Idealis, Humanis, dan Teknologis.