Banyak orang tua merasa keringat dingin saat anak tiba-tiba bertanya, "Ma, aku dulu keluarnya dari mana?" atau saat mereka melihat adegan mesra di televisi. Di budaya kita, membicarakan hubungan badan sering dianggap tabu. Padahal, menutup mata terhadap rasa ingin tahu anak adalah bom waktu yang sangat berbahaya.
Kita hidup di era informasi terbuka. Jika orang tua tidak menjadi sumber informasi pertama, anak akan mencari jawabannya di internet yang mungkin memberikan informasi menyimpang atau pornografi. Edukasi seksual sejak dini adalah tameng pelindung untuk menjaga tubuh mereka sendiri.
1. Sebutkan Nama Organ dengan Benar
Berhenti menggunakan nama samaran seperti 'burung' atau 'anu'. Gunakan istilah medis seperti penis dan vagina secara wajar. Ini penting agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, anak bisa melaporkannya dengan jelas tanpa rasa malu.

2. Konsep 'Underwear Rule'
Ajarkan anak bahwa bagian tubuh yang tertutup pakaian dalam adalah area pribadi yang tidak boleh dilihat atau disentuh oleh siapapun. Ini adalah fondasi utama pencegahan pelecehan seksual pada anak.
3. Menjelaskan Asal Usul Bayi
Gunakan bahasa yang sesuai usia. Jelaskan bahwa bayi tumbuh di dalam rahim ibu karena rasa cinta ayah dan ibu. Anda tidak perlu menjelaskan proses teknisnya, cukup berikan gambaran bahwa rahim adalah tempat paling aman di dunia.

4. Bangun Kepercayaan Anak
Jadilah tempat bertanya yang aman. Jika Anda merespons dengan kaget, anak akan lari ke internet. Katakan: "Mama senang kamu tanya ini, mari kita bahas pelan-pelan."
5. Ajarkan Tentang Persetujuan (Consent)
Ajarkan anak bahwa mereka berhak berkata 'tidak' jika tidak mau dipeluk atau dicium, bahkan oleh keluarga. Ini melatih mereka menghargai batasan diri dan orang lain.

Kesimpulan
Tugas kita bukan menjaga anak tetap 'polos', tapi memastikan mereka 'terdidik'. Dengan informasi yang benar, kita menutup pintu bagi predator dan membuka masa depan yang lebih sehat untuk mereka.
