Kembali ke Blog
Sains & Fenomena Alam 31 Desember 2025

Misteri Dasar Laut yang Lebih Seram dari Luar Angkasa: Kenapa Kita Lebih Tahu Bulan daripada Samudera Sendiri?

Misteri Dasar Laut yang Lebih Seram dari Luar Angkasa: Kenapa Kita Lebih Tahu Bulan daripada Samudera Sendiri?

Manusia adalah makhluk yang aneh. Kita berani mengirim robot ke Mars, memasang teleskop raksasa ke luar angkasa, dan memetakan galaksi miliaran tahun cahaya jauhnya. Tapi ketika ditanya apa yang ada di dasar laut Bumi sendiri, jawabannya sering kali jujur dan menakutkan: kita tidak benar-benar tahu.

Fakta ini terdengar seperti lelucon kosmik. Kita hidup di planet yang 70% permukaannya ditutupi air, namun lebih dari 80% samudera masih belum dipetakan secara detail. Bahkan Bulan—yang jaraknya ratusan ribu kilometer—secara topografi justru lebih kita kenal.

Pertanyaannya bukan sekadar ilmiah. Pertanyaannya eksistensial: kenapa kita lebih nyaman menatap ke atas daripada menyelam ke bawah?

Angkasa vs Samudera: Mana yang Lebih Dikenal?

Secara teknologi, ini terdengar tidak masuk akal. Bulan jauh. Laut dekat. Tapi kenyataannya, peta Bulan lebih lengkap daripada peta dasar laut. NASA memiliki data resolusi tinggi permukaan Bulan. Sementara itu, sebagian besar dasar samudera masih digambarkan menggunakan sonar kasar, bukan observasi langsung.

Tekanan: Musuh Utama Eksplorasi Laut

Jika luar angkasa menakutkan karena hampa, laut menakutkan karena tekanan. Setiap 10 meter ke bawah, tekanan meningkat sekitar satu atmosfer. Di Palung Mariana, tekanan bisa mencapai lebih dari 1.000 kali tekanan udara di permukaan. Itu cukup untuk menghancurkan kapal selam biasa seperti kaleng minuman.

samudera luas yang misterius

Teknologi luar angkasa menghadapi vakum dan radiasi, tapi struktur bisa diperkuat. Di laut, kesalahan kecil berarti implosi seketika. Laut tidak memberi ruang untuk salah.

Kegelapan Absolut: Dunia Tanpa Cahaya

Di kedalaman sekitar 200 meter, cahaya matahari mulai menghilang. Di bawah 1.000 meter, dunia benar-benar gelap. Berbeda dengan luar angkasa yang kosong, laut dalam penuh kehidupan—tapi kehidupan yang berevolusi tanpa cahaya, tanpa warna, dan tanpa referensi visual seperti yang kita kenal.

Makhluk Laut Dalam: Alien yang Nyata

Ironi lain: kita membayangkan alien dari planet lain, padahal "alien" sudah hidup bersama kita. Ikan angler dengan umpan bercahaya. Cacing tabung raksasa di sekitar ventilasi hidrotermal. Cumi-cumi raksasa yang panjangnya bisa menyaingi bus.

ilustrasi kedalaman laut yang gelap

Jika ditemukan di planet lain, mereka akan disebut bukti kehidupan alien. Karena mereka ada di laut, kita hanya menyebutnya “ikan aneh”.

Kenapa Eksplorasi Laut Kalah Pamor?

Jawaban jujurnya sederhana: narasi. Luar angkasa menjanjikan masa depan. Koloni. Planet baru. Harapan. Laut menawarkan masa lalu. Kegelapan. Tekanan. Hal-hal yang tidak ingin kita hadapi.

perbandingan dengan luar angkasa

Secara psikologis, manusia lebih tertarik pada mimpi daripada cermin. Samudera adalah cermin: ia menunjukkan betapa kecil dan rapuhnya kita.

Teknologi Modern Mulai Menyibak Tirai

Baru dalam beberapa dekade terakhir, robot laut dalam (ROV) dan kendaraan otonom mulai menjelajah lebih jauh. Setiap ekspedisi hampir selalu menemukan spesies baru. Ini menunjukkan satu hal: kita baru mengintip, belum benar-benar memahami.

robot bawah laut canggih

Bayangkan berapa banyak ilmu, obat, dan wawasan evolusi yang masih tersembunyi.

Kesimpulan: Yang Paling Asing Justru Paling Dekat

Misteri dasar laut bukan sekadar soal sains, tapi soal keberanian untuk menghadapi kegelapan. Mungkin alasan kita lebih tahu tentang Bulan bukan karena Bulan lebih menarik, tapi karena laut terlalu jujur.

Sudah paham materinya?

Yuk uji pemahamanmu sekarang dengan mengerjakan latihan soal yang sesuai.

Latihan Soal Sekolah