Kembali ke Blog
Parenting 26 Januari 2026

Dilema SNBP: Pilih PTN Jauh tapi 'Murah' atau Dekat tapi 'Mahal'? (Jujuran Soal Biaya & Mental)

Dilema SNBP: Pilih PTN Jauh tapi 'Murah' atau Dekat tapi 'Mahal'? (Jujuran Soal Biaya & Mental)

Hari-hari ini, rasanya aura di rumah jadi beda. Tegang. Kayak ada mendung yang gantung di plafon ruang tamu. Gara-garanya cuma satu: Finalisasi SNBP. Buat kita yang punya anak kelas 12, bulan-bulan ini tuh... beuh. Jantung rasanya pindah ke perut.

Kemarin malam, saya, istri, sama si Kakak duduk melingkar di meja makan. Di depan kita bukan makanan, tapi laptop yang nyala nampilin web kampus, kalkulator, sama kertas coret-coretan bekas bon belanja. Topiknya berat: Pilih kampus mana?

Si Kakak pengen banget masuk PTN di Jawa Tengah (kita posisi di Jabodetabek). Katanya, 'Yah, di sana UKT-nya murah, Pa. Golongan tertingginya aja cuma segini.' Dia nunjuk angka di layar. Memang sih, angkanya 'cantik'. Jauh lebih rendah dibanding PTN mentereng yang ada di kota sebelah rumah kita.

keluarga diskusi serius soal biaya kuliah di meja makan

Tapi otak emak-emak dan bapak-bapak kan nggak sesimpel itu ya. Kita nggak cuma liat SPP/UKT. Kita liat 'printilan'-nya. Kosan? Makan? Tiket kereta pas lebaran? Kalau sakit siapa yang ngurus? Dihitung-hitung, selisih UKT yang murah itu bisa-bisa habis (malah nombok) buat biaya hidup di rantau.

Sementara kalau pilih PTN deket rumah... UKT-nya emang bikin pengen elus dada sambil istighfar. Mahal. Tapi, anak masih bisa tidur di kasurnya sendiri. Makan masih bisa masakan ibunya (gratis). Nggak ada biaya kos. Nggak ada drama homesick.

Jebakan Kata 'Murah'

Jujur, saya sempet tergoda opsi pertama. 'Wah, irit nih kuliah di luar kota'. Tapi terus istri saya nyeletuk, 'Pa, inget nggak si Abang sepupu? Kuliah murah di Jogja, tapi tiap bulan minta kiriman nambah terus karena harga makanan naik?'. Mak-jleb. Iya juga.

Murah di atas kertas belum tentu murah di lapangan. Kita kadang lupa masukin biaya tak terduga: kuota internet, iuran kegiatan, fotokopi, nongkrong sama temen (yakali anak muda nggak ngopi), sampe biaya darurat kalau motor mogok.

Coretan di kertas bon itu makin ruwet. Angka sana-sini dicoret. Pusing. Asli pusing.

anak remaja pusing melihat laptop pendaftaran kuliah

Terus ada satu hal lagi yang nggak bisa dihitung pake kalkulator: Kesiapan Mental.

Saya ngeliatin si Kakak. Dia emang udah punya KTP. Udah bisa bawa motor. Tapi ngeliat dia makan aja masihupilih-pilih, baju kotor masih ditaruh sembarangan... saya ragu. Tega nggak ya lepas dia sendirian di kota orang? Apa dia bisa survive kalau sakit demam sendirian di kamar kos 3x3 meter?

Ada ketakutan egois orang tua di situ. Takut kehilangan kontrol. Takut anak kenapa-napa.

Rezeki Punya Pintunya Sendiri

Perdebatan semalem itu berakhir buntu. Laptop ditutup. Kita diem-dieman. Si Kakak mukanya cemberut, masuk kamar.

Tapi pagi ini, pas lagi nyiram tanaman, saya mikir lagi. Sebenernya yang kita takutin itu uangnya, atau pisahnya? Kalau soal uang, percaya nggak percaya, Tuhan itu Maha Kaya. Dulu waktu anak ini lahir, gaji kita pas-pasan banget kan? Tapi nyatanya bisa tuh sampe lulus SMA.

Mungkin kuncinya bukan di kalkulator. Tapi di komunikasi hati ke hati sama anak. Kalau dia emang keukeuh mau merantau demi pengalaman mandiri (dan dia sadar diri mau hidup prihatin), kenapa kita halangi cuma karena takut dompet jebol? Sebaliknya, kalau dia sebenernya berat hati pergi jauh cuma karena 'kasihan Bapak bayar mahal', kita harus yakinkan dia kalau rezeki Bapaknya itu ada aja buat pendidikan.

orang tua merangkul anak memberikan dukungan

Akhirnya tadi pagi sebelum dia berangkat sekolah, saya cuma pesen gini: 'Kak, pilih yang sreg di hati Kakak. Soal biaya, itu urusan Papa sama Allah. Jangan pilih kampus karena kasihan sama dompet Papa, tapi pilih karena Kakak emang mau belajar di situ.'

Dia senyum. Agak lega kayaknya.

Buat temen-temen yang lagi galau pilih PTN A atau B... tarik napas. Tutup dulu kalkulatornya. Tanya anaknya. Liat matanya. Karena pada akhirnya, investasi terbesar kita bukan uang UKT, tapi masa depan dan kebahagiaan mental mereka.

Semangat klik tombol 'Finalisasi' ya! Bismillah, tembus!

Sudah paham materinya?

Yuk uji pemahamanmu sekarang dengan mengerjakan latihan soal yang sesuai.

Latihan Soal Sekolah