Kembali ke Blog
Self Development 11 Februari 2026

Gelar Sarjana atau Skill? Dilema Anak Kuliah Yang Takut Nganggur

Gelar Sarjana atau Skill? Dilema Anak Kuliah Yang Takut Nganggur

Ijazah Saja Ternyata Tidak Cukup Lagi

Pernah tidak, Bapak atau Ibu melihat wajah anak kuliahan zaman sekarang saat mereka pulang ke rumah? Ada sorot mata yang beda. Bukan cuma capek karena tugas, tapi ada rasa cemas yang dalam. Saya sering mengobrol dengan anak-anak muda ini, dan jujur saja, hati saya ikut mencelos. Mereka bilang, 'Mbak, teman saya IPK-nya 3,9 tapi sudah setahun lamanya cuma kirim email lamaran tanpa ada panggilan satu pun'. Bayangkan, dulu kita diajarkan kalau sekolah tinggi itu adalah tiket emas menuju hidup enak. Tapi sekarang? Aturannya sudah berubah total, dan banyak dari kita, orang tua, yang masih pakai pola pikir lama.

mahasiswa belajar dengan laptop

Dunia kerja sekarang itu kejamnya minta ampun. Perusahaan tidak lagi cuma tanya 'Kamu lulusan mana?', tapi 'Kamu bisa apa?'. Banyak anak kita yang terjebak di dalam ruang kelas, menghafal teori yang mungkin tahun depan sudah basi, sementara di luar sana dunia bergerak secepat kilat. Di sinilah biasanya terjadi konflik di rumah. Kita sebagai orang tua menuntut nilai bagus, menuntut cepat lulus, sementara si anak merasa apa yang dia pelajari di kampus tidak nyambung dengan apa yang diminta kantor-kantor di Jakarta atau di kota besar lainnya. Akhirnya apa? Si anak stres, kita pun kecewa. Padahal, mungkin yang mereka butuhkan bukan cuma dorongan untuk lulus, tapi ruang untuk mencoba hal lain di luar buku teks.

Jangan Sampai Salah Pilih Jurusan Karena 'Kata Orang'

Saya sering sekali ketemu anak yang kuliahnya setengah hati. Kenapa? Karena jurusannya pilihan orang tuanya, atau ikut-ikutan tren saja. 'Jurusan ini prospeknya bagus, Nak,' begitu kata kita dulu. Tapi kita lupa, yang menjalani itu mereka, bukan kita. Saat mereka dipaksa masuk ke wadah yang tidak pas, karir mereka nanti juga akan terasa hambar. Saya melihat banyak orang sukses justru bukan karena gelarnya linier, tapi karena mereka punya skill yang mereka asah dengan keringat sendiri. Ada yang lulusan hukum tapi jago desain grafis, ada yang sarjana teknik tapi malah sukses jadi penulis. Dunia sekarang menghargai hasil nyata, bukan sekadar gelar di belakang nama.

diskusi karir dan pekerjaan

Kita perlu sadar, kuliah itu sekarang bukan lagi tempat untuk 'menghafal', tapi tempat untuk 'berjejaring' dan belajar cara berpikir. Kalau anak kita cuma pulang pergi kampus-rumah, mereka akan kalah saing sama yang aktif berorganisasi atau yang diam-diam ambil kursus online di malam hari. Di titik ini, sebagai orang tua, kita jangan terlalu kaku. Kalau anak bilang mau ikut magang tanpa bayaran atau mau belajar coding padahal dia anak sastra, dukung saja. Itu investasi yang jauh lebih mahal daripada ijazah yang dipigura di ruang tamu. Mereka sedang membangun pondasi, dan pondasi zaman sekarang itu bentuknya bukan semen, tapi pengalaman dan kemampuan beradaptasi.

Antara Gengsi Orang Tua dan Kebahagiaan Anak

Kadang, jujur saja ya, kita ingin anak kerja di tempat mentereng supaya bisa dipamerkan saat arisan atau kumpul keluarga. 'Anak saya di bank anu', 'Anak saya jadi PNS'. Tidak salah memang, tapi apakah itu yang bikin mereka bangun tidur dengan semangat? Banyak anak muda sekarang yang memilih jadi freelancer, kerja dari kafe, atau bangun usaha sendiri. Bagi kita yang besar di era 'kerja kantoran adalah segalanya', ini terlihat berisiko. Kita jadi sering ngomel, 'Kok kerjanya main laptop terus di kamar?'. Padahal, bisa jadi di kamar itu dia sedang menghasilkan uang yang lebih besar dari gaji manajer. Kita perlu sedikit menurunkan ego dan mulai mendengarkan cara kerja dunia baru ini.

anak muda sedang bekerja kreatif

Karier itu bukan lari sprint, tapi maraton yang sangat panjang. Tidak masalah kalau setelah lulus mereka tidak langsung dapat kerja bagus. Jangan tekan mereka dengan kata-kata 'Si A sudah begini, Si B sudah begitu'. Tekanan dari luar sudah cukup berat buat mereka, jangan ditambah lagi dengan tekanan dari dalam rumah. Rumah harusnya jadi tempat mereka 'cas baterai', tempat mereka merasa aman untuk gagal dan mencoba lagi. Biarkan mereka mencari jalannya sendiri, asal mereka bertanggung jawab. Peran kita sekarang adalah jadi pemandu, bukan pengatur lalu lintas yang meniup peluit setiap kali mereka mau belok ke arah yang tidak kita mengerti.

Persiapan Mental Itu Nomor Satu

Pada akhirnya, bukan gelar S1, S2, atau S3 yang akan menyelamatkan mereka di dunia kerja, tapi mental yang tangguh. Dunia kerja itu penuh dengan penolakan, penuh dengan politik kantor, dan penuh dengan rasa lelah. Kalau sejak kuliah mereka tidak kita biasakan untuk mandiri dan berani ambil risiko, mereka akan kaget saat terjun langsung. Mari kita ajarkan mereka kalau nilai itu penting, tapi kejujuran dan kegigihan itu jauh lebih penting. Biarkan mereka belajar lecet-lecet dikit sekarang, daripada nanti mereka tumbang saat sudah di tengah jalan. Kita cuma bisa mendoakan dan memberikan pundak kalau mereka butuh sandaran. Tetap semangat ya, mendampingi proses mereka jadi manusia dewasa yang mandiri.

Sudah paham materinya?

Yuk uji pemahamanmu sekarang dengan mengerjakan latihan soal yang sesuai.

Latihan Soal Sekolah