Waktu Itu, Kebahagiaan Rasanya Begitu Murah
Pernah tidak, Bapak atau Ibu duduk diam sebentar, lalu tiba-tiba teringat masa kecil sendiri? Saya sering begitu. Rasanya baru kemarin saya lari-lari ke warung pojok bawa koin lima ratus perak. Dapat permen warna-warni, dapat kerupuk plastik, rasanya sudah jadi anak paling kaya sedunia. Bahagianya itu... awet sampai sore. Sederhana sekali ya? Tidak perlu banyak mikir, tidak perlu banyak menuntut. Cukup ada sisa uang kemasan dari ibu, dunia rasanya sudah milik kita sendiri. Tapi sekarang, kalau saya lihat anak-anak di rumah, rasanya kok jauh sekali bedanya.

Kemarin ada seorang ibu yang cerita ke saya sambil matanya berkaca-kaca. Dia kaget setengah mati waktu lihat tagihan kartu kredit atau mutasi di rekeningnya. Ada angka lima ratus ribu, bukan buat sepatu sekolah atau buku, tapi buat voucher game. Dan yang bikin dia sakit hati, setelah dikasih jajan semahal itu, si anak malah marah-marah gara-gara koneksi internet lambat. Anaknya galak, mukanya ditekuk, tidak ada terima kasihnya sama sekali. Si ibu ini cuma bisa elus dada. Dia bilang ke saya, 'Mbak, salah saya di mana ya? Dulu saya jajan seribu perak saja cium tangan bapak sampai bolak-balik. Sekarang anak saya dikasih segini banyak malah makin jauh'.
Bukan Soal Angkanya, Tapi Soal Rasanya
Kita sering terjebak membandingkan nominal. Dulu lima ratus perak, sekarang lima ratus ribu. Ya, inflasi memang nyata, tapi yang lebih ngeri itu inflasi di hati anak-anak kita. Mereka terpapar standar kesenangan yang tinggi sekali sejak kecil. Kalau dulu kesenangan kita itu bentuknya fisik—ada permennya, ada suaranya, ada teman mainnya—sekarang kesenangan anak-anak itu digital. Tidak kelihatan, tapi candunya luar biasa. Masalahnya, barang digital itu tidak pernah ada puasnya. Beli skin ini, mau skin itu. Beli level ini, mau level itu. Akhirnya, anak-anak kita seperti orang haus yang minum air garam. Makin minum, makin haus. Dan kita sebagai orang tua, sering kali cuma bisa jadi 'mesin ATM' yang bingung kenapa anak kita jadi begini.

Jujur saja, di titik ini kita juga sering salah langkah. Karena kita sayang, karena kita tidak mau anak kita dianggap 'kuno' atau kurang gaul sama temannya, kita iyakan saja. Kita kasih. Tapi pernah tidak kita sadari, setiap kali kita mempermudah mereka mendapatkan kemewahan tanpa usaha, kita sebenarnya sedang mencuri kesempatan mereka untuk belajar menghargai? Dulu kita bahagia dengan lima ratus perak karena kita tahu susahnya minta ke orang tua. Kita tahu nilai koin itu. Anak sekarang? Tinggal klik, saldo berkurang, kesenangan datang. Proses 'menunggu' dan 'berusaha' itu hilang. Padahal, justru di dalam proses menunggu itulah rasa syukur itu tumbuh.
Mencoba Mengerti Dunianya yang Riuh
Saya tidak bilang kita harus pelit atau melarang anak main game sama sekali. Zaman sudah berubah, kita tidak bisa paksa mereka hidup di tahun 90-an. Tapi mungkin, kita perlu pelan-pelan masuk ke dunianya. Bukan untuk memarahi, tapi untuk bertanya, 'Nak, apa sih yang bikin kamu senang banget sama game ini?'. Kadang mereka galak itu bukan karena kurang jajan, tapi karena stres. Tekanan pertemanan di dunia digital itu keras sekali. Mereka takut dianggap lemah, takut ketinggalan. Mereka butuh pengakuan. Dan sayangnya, mereka mencari pengakuan itu lewat voucher-voucher mahal tadi. Mereka belum paham kalau harga diri itu tidak bisa dibeli pakai diamond atau skin karakter.

Mungkin kita perlu mulai bicara lagi. Bicara yang benar-benar bicara, bukan cuma tanya 'sudah makan belum' atau 'PR sudah selesai?'. Coba ajak mereka kembali ke hal-hal yang sifatnya fisik. Main di taman, masak bareng, atau sekadar jalan kaki sore tanpa bawa HP. Awalnya pasti mereka protes. Pasti mereka bilang bosan. Tapi percayalah, bosan itu perlu. Di dalam rasa bosan itu, otak mereka akan mulai mencari kreativitas lagi. Mereka akan mulai sadar kalau bahagia itu tidak selalu harus lewat layar. Kita sebagai orang tua juga harus tegas. Menyayangi anak bukan berarti menuruti semua keinginannya yang merusak jiwanya. Terkadang, kata 'tidak' adalah bentuk cinta paling tulus yang bisa kita berikan.
Menemukan Kembali Makna Cukup
Akhirnya, ini semua tentang kita juga. Apakah kita sudah kasih contoh tentang rasa cukup? Atau jangan-jangan kita sendiri juga sering mengeluh kurang padahal kulkas penuh? Anak adalah peniru yang paling hebat. Kalau mereka lihat kita selalu mengejar yang terbaru, yang termahal, mereka akan melakukan hal yang sama. Mari kita coba pelan-pelan. Kembalikan lagi nilai uang di mata mereka. Biar mereka tahu kalau lima ratus ribu itu bukan cuma angka di layar, tapi itu adalah keringat bapaknya, itu adalah waktu ibunya yang tersita. Pelan-pelan saja, tidak usah buru-buru. Yang penting, mereka mulai paham kalau kebahagiaan itu adanya di dalam hati yang tahu cara berterima kasih, bukan di dalam akun game yang tidak ada habisnya. Semangat ya, buat kita semua yang lagi berjuang jadi orang tua di zaman yang serba cepat ini. Kita tidak sendirian kok.
