Kembali ke Blog
Self Development 17 Januari 2026

Kenapa Anak Lebih Nurut ke HP daripada Orang Tuanya?

Kenapa Anak Lebih Nurut ke HP daripada Orang Tuanya?

Anak Terlihat Anteng, Tapi Sebenarnya Pergi Jauh

Ada pemandangan yang makin sering kita lihat di rumah. Anak duduk diam, tidak ribut, tidak berlarian. Dari luar tampak seperti anak penurut. Tapi ketika dipanggil, tidak ada respons. Mata menempel ke layar, jari refleks menggeser.

Banyak orang tua mengira ini hal sepele. Selama anak diam, dianggap aman. Padahal diam bukan berarti hadir. Anak sedang berada di tempat lain, di dunia yang terasa lebih nyaman daripada rumahnya sendiri.

HP bukan cuma alat hiburan. Buat anak, ia menjadi ruang pelarian saat interaksi di rumah terasa penuh tekanan kecil yang menumpuk.

anak fokus ke hp di rumah

Kenapa HP Terasa Lebih Didengar daripada Orang Tua

HP tidak pernah menghakimi. Tidak membandingkan. Tidak menghela napas karena lelah. Anak salah? Tinggal ulang. Bosan? Tinggal ganti.

Sementara di rumah, banyak interaksi tanpa sadar berisi koreksi. Duduk sebentar diingatkan tugas. Cerita sedikit dipotong nasihat. Salah kecil dibahas panjang.

Lama-lama anak belajar satu pola: berbicara dengan orang tua sering berujung tidak nyaman, sementara layar selalu netral dan menerima.

Bukan karena orang tua jahat. Tapi karena lelah sering membuat kita lupa satu hal penting, yaitu mendengarkan tanpa ingin langsung membenarkan.

Larangan Tanpa Kedekatan Justru Menambah Jarak

Reaksi paling umum adalah melarang. HP disita. Waktu dibatasi ketat. Secara aturan mungkin benar, tapi secara hubungan sering bermasalah.

Anak tidak otomatis belajar mengontrol diri. Mereka justru belajar menyembunyikan. Main diam-diam. Bohong kecil. Menghindar dari percakapan.

HP akhirnya berubah dari alat menjadi simbol kebebasan yang dirampas.

orang tua dan anak kurang komunikasi

Bukan Anak yang Berubah, Tapi Dunianya

Dulu dunia anak terbatas pada rumah dan sekolah. Sekarang dunia itu ada di genggaman. Cepat, ramai, penuh validasi instan.

Dunia nyata memang kalah cepat dari layar. Tapi punya satu keunggulan besar yang tidak dimiliki HP, yaitu hubungan yang nyata dan rasa aman yang sesungguhnya.

Masalahnya, hubungan itu perlu dirawat. Tidak bisa hadir setengah-setengah.

Kenapa Nasihat Orang Tua Sering Kalah oleh Konten Singkat

Banyak nasihat datang dengan niat baik, tapi cara yang berat. Terlalu panjang. Terlalu sering. Terlalu fokus pada kesalahan.

Sementara konten di HP berbicara dengan bahasa anak. Singkat. Visual. Tidak menggurui.

Anak bukan tidak mau dinasihati. Mereka tidak mau merasa direndahkan.

anak menyendiri dengan ponsel

Tanda Anak Mulai Lebih Percaya Layar

Jawaban makin singkat. Cerita makin jarang. Emosi mudah meledak saat HP diambil. Anak lebih nyaman curhat ke luar daripada ke rumah.

Ini bukan durhaka. Ini sinyal hubungan yang perlu diperbaiki.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua Mulai Sekarang

Mulai dari hal sederhana. Hadir penuh saat anak bicara. Simpan HP Anda sendiri. Dengarkan sampai selesai tanpa langsung menghakimi.

Buat aturan HP bersama. Jelaskan alasannya, bukan ancamannya.

Isi waktu tanpa layar dengan aktivitas yang benar-benar melibatkan emosi, bukan sekadar menemani secara fisik.

Penutup

Ketika anak lebih nurut ke HP daripada orang tuanya, itu bukan tanda kegagalan total. Itu alarm kecil agar kita berhenti sejenak dan memperbaiki cara hadir.

Bukan siapa yang paling keras yang didengar anak, tapi siapa yang paling aman untuk mereka datangi.

Sudah paham materinya?

Yuk uji pemahamanmu sekarang dengan mengerjakan latihan soal yang sesuai.

Latihan Soal Sekolah