Meja Makan yang Mendadak Sepi
Pernah tidak, kita sudah capek-capek masak, teriak panggil nama si kecil berkali-kali, tapi yang terdengar cuma suara tembakan atau musik aneh dari kamarnya? Rasanya campur aduk. Marah, sedih, sekaligus merasa gagal. Kita masuk ke kamar, dan di sana dia duduk membungkuk, matanya merah, tangannya lincah di atas layar, seolah dunia di luar sana sudah tidak ada lagi. Bahkan bau nasi hangat pun tidak sanggup memanggilnya pulang. Kejadian ini bukan cuma sekali dua kali. Hampir setiap sore, meja makan yang seharusnya jadi tempat kita bercerita, malah jadi saksi bisu betapa jauhnya jarak antara kita dan anak, padahal fisiknya ada di depan mata. Kita berdiri di ambang pintu kamar, memegang piring yang mulai mendingin, dan rasanya ingin sekali membanting HP itu. Tapi kita tahu, itu bukan solusinya. Ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang terjadi di balik layar yang terang benderang itu.

Saya sering mendengar cerita ini dari para ibu yang menangis saat sesi curhat. Mereka merasa kehilangan anak mereka yang dulu ceria dan suka makan lahap. Sekarang, anak itu seolah jadi robot. Tubuhnya makin kurus, lingkaran hitam di bawah mata makin jelas, tapi tangannya tidak bisa berhenti bergerak. Kita pikir mereka nakal atau keras kepala. Tapi jujur, di dalam sana, mereka sebenarnya sedang 'tersesat'. Di dalam game itu, mereka merasa jadi pahlawan, merasa menang, dan merasa punya kendali. Hal-hal yang mungkin sulit mereka dapatkan di dunia nyata yang penuh aturan, tuntutan sekolah, dan teguran dari kita. Di sana, mereka punya identitas. Di meja makan, mereka cuma anak kecil yang disuruh-suruh. Perbedaan rasa inilah yang membuat mereka lebih memilih lapar perut daripada lapar akan kemenangan di dunia virtual.
Kenapa Nasi Kita Kalah dengan Pixel?
Kita perlu jujur pada diri sendiri. Mengapa dunia mereka jadi begitu sempit hanya seluas 6 inci? Waktu itu saya pernah diam di pojok kamar, memperhatikan anak yang sedang main. Saya tidak marah, cuma melihat. Ternyata, adrenalin yang mereka rasakan itu nyata. Jantung mereka berdegup kencang. Saat mereka menang, otak mereka banjir dopamin. Itu zat kimia yang bikin senang. Sedangkan makan nasi? Itu kegiatan membosankan buat mereka. Makan butuh waktu, butuh mengunyah, dan bagi mereka itu adalah gangguan dari misi penyelamatan dunia yang sedang mereka jalani. Di titik ini biasanya kita bingung. Kita ingin mereka sehat, tapi cara kita menyampaikannya seringkali malah bikin mereka makin menjauh. Kita teriak, 'Makan sekarang atau HP mama sita!'. Dan apa hasilnya? Mereka makan dengan wajah cemberut, hati mendongkol, dan hubungan kita makin retak. Nasi yang mereka telan pun rasanya jadi pahit karena bumbu kemarahan kita.

Coba ingat kapan terakhir kali kita duduk di samping mereka tanpa ngomel? Bukan untuk menyuruh makan, tapi cuma tanya, 'Lagi lawan apa sih? Kok seru banget?'. Seringkali, anak butuh 'jembatan' untuk kembali ke dunia nyata. Mereka butuh kita masuk sebentar ke dunia mereka, sebelum kita tarik mereka kembali ke meja makan. Kadang kita lupa, perintah yang galak itu bunyinya seperti gangguan bagi mereka, bukan perhatian. Saya teringat seorang ayah yang bercerita, dia akhirnya belajar cara main game anaknya. Awalnya dia kaku, sering kalah, tapi di sana ada tawa yang sudah lama hilang. Setelah satu ronde selesai, barulah ayahnya bilang, 'Perut pahlawan kita butuh bensin nih, yuk kita makan dulu'. Dan keajaiban terjadi, si anak berdiri tanpa protes. Ternyata, kuncinya bukan pada kerasnya suara kita, tapi pada lembutnya pendekatan kita. Kita harus menjadi orang yang mereka percayai untuk membawa mereka kembali ke dunia nyata, bukan penjaga penjara yang siap menghukum kapan saja.
Lelah yang Tak Berujung di Balik Layar
Dinamika rumah tangga itu memang melelahkan. Apalagi kalau kita sendiri juga sedang capek kerja, lalu pulang melihat anak belum makan karena game. Rasanya meledak. Tapi mari kita tarik napas sebentar. Kalau kita marah, mereka akan makin mengunci pintu hati. Mereka akan merasa rumah bukan lagi tempat yang aman untuk berekspresi, tapi tempat yang penuh tekanan. Akhirnya, game jadi pelarian yang makin kuat. Ini lingkaran setan yang harus kita putus. Kita sering berpikir, 'Ah, dulu saya nggak begini'. Tapi zaman sudah beda. Godaan di tangan mereka jauh lebih besar daripada zaman kita dulu. Kita berkompetisi dengan ribuan insinyur perangkat lunak yang didesain untuk membuat anak kita ketagihan. Kita tidak bisa menang sendirian dengan hanya modal teriakan. Kita butuh strategi yang lebih manusiawi.

Saya sering merenung, mungkin selama ini meja makan kita terlalu kaku? Terlalu banyak pertanyaan seperti 'Gimana sekolahnya?', 'Tadi ulangan bisa?', 'Kenapa nilainya turun?'. Pertanyaan-pertanyaan yang bagi anak terasa seperti interogasi. Tidak heran mereka lebih suka suara tembakan di game daripada suara kita. Bagaimana kalau kita ubah suasananya? Bagaimana kalau meja makan jadi tempat kita bercerita tentang kekonyolan kita di kantor, atau tentang kucing tetangga yang lucu? Jadikan momen makan sebagai momen yang dinanti, bukan momen yang dihindari. Anak yang kecanduan game itu sebenarnya sedang mencari koneksi. Jika mereka tidak menemukannya di rumah, mereka akan mencarinya di server game bersama orang asing. Ini yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar lupa makan satu kali.
Membangun Kembali Jembatan yang Putus
Lalu, apa yang harus kita lakukan besok pagi? Mulailah dengan tidak menganggap game sebagai musuh bebuyutan. Anggap itu hobi yang butuh batasan. Buat kesepakatan saat suasana hati sedang baik, bukan saat mereka sedang asyik main. Katakan dengan jujur, 'Mama sayang sama kamu, Mama takut kamu sakit kalau nggak makan'. Biarkan mereka melihat kekhawatiran kita sebagai rasa kasih, bukan sebagai kekuasaan. Beri mereka waktu transisi. Jangan pernah mematikan saklar lampu atau Wi-Fi secara tiba-tiba kecuali dalam keadaan darurat. Beri peringatan sepuluh menit, lalu lima menit. Biarkan mereka menyelesaikan 'misi' terakhirnya. Penghargaan kecil terhadap aktivitas mereka akan membuat mereka lebih menghargai permintaan kita.
Kadang saya juga merasa gagal. Ada hari-hari di mana saya kehilangan kesabaran dan mulai berteriak lagi. Tapi saya belajar untuk minta maaf. Bilang ke anak, 'Maafin Mama ya tadi marah-marah, Mama cuma panik lihat kamu belum makan dari pagi'. Percayalah, kalimat itu jauh lebih ampuh daripada ceramah satu jam tentang kesehatan. Anak akan merasa dihargai sebagai manusia. Perjuangan ini memang panjang. Tidak ada tombol 'off' instan untuk kecanduan ini. Ini adalah tentang memenangkan kembali hati mereka, satu suapan demi satu suapan. Setiap kali mereka mau menaruh HP-nya dan duduk bersama kita, rayakan itu di dalam hati. Itu adalah langkah besar bagi mereka.
Perjalanan ini memang melelahkan, menguras emosi, dan seringkali membuat kita ingin menyerah. Tapi melihat mereka akhirnya mau menatap mata kita lagi, bercanda tanpa ada gangguan layar, itu adalah kemenangan yang tak ternilai harganya. Besok mungkin mereka akan lupa lagi, mereka mungkin akan tergoda lagi dengan notifikasi game itu. Tapi kita akan selalu ada di sana, siap menjemput mereka pulang ke meja makan. Karena pada akhirnya, tidak ada kemenangan virtual yang bisa menggantikan hangatnya pelukan dan nikmatnya nasi hangat buatan ibu yang penuh cinta. Kita hanya perlu terus mencoba, dengan sabar yang tidak ada batasnya, karena mereka adalah investasi terbaik yang pernah kita miliki dalam hidup ini.
