Kembali ke Katalog
KARIR KELAS UKOM

Keperawatan Medikal Bedah: Kardiovaskular & Respirasi

Modul Pembelajaran: Keperawatan Medikal Bedah: Kardiovaskular & Respirasi

Modul Pembelajaran: Keperawatan Medikal Bedah: Sistem Kardiovaskular & Respirasi

Selamat datang di modul pembelajaran Keperawatan Medikal Bedah (KMB) yang komprehensif ini. Sebagai seorang perawat profesional, pemahaman mendalam tentang sistem kardiovaskular dan respirasi adalah fundamental dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas.
Modul ini dirancang untuk membekali Anda dengan pengetahuan esensial mengenai anatomi, fisiologi, patofisiologi, pengkajian, dan intervensi keperawatan untuk berbagai kondisi umum yang mempengaruhi kedua sistem vital ini.

Sistem kardiovaskular dan respirasi saling terkait erat dalam memastikan suplai oksigen yang adekuat ke seluruh tubuh dan pembuangan karbon dioksida. Gangguan pada salah satu sistem dapat berdampak signifikan pada sistem lainnya, serta pada homeostasis tubuh secara keseluruhan. Oleh karena itu, pendekatan holistik dan terintegrasi sangat penting dalam praktik KMB.

1. Sistem Kardiovaskular

Sistem kardiovaskular bertanggung jawab untuk mengangkut darah, oksigen, nutrisi, hormon, dan produk limbah ke seluruh tubuh. Sistem ini terdiri dari jantung, pembuluh darah (arteri, vena, kapiler), dan darah itu sendiri. Pemahaman yang kuat tentang bagaimana sistem ini berfungsi sangat penting untuk mengidentifikasi dan mengelola disfungsi.

1.1. Anatomi & Fisiologi Jantung dan Pembuluh Darah

Jantung adalah organ berotot berongga yang berfungsi sebagai pompa utama dalam sistem sirkulasi. Ia memiliki empat ruang: dua atrium di atas dan dua ventrikel di bawah, dipisahkan oleh septum. Darah mengalir melalui sirkulasi pulmonal (ke paru-paru) dan sirkulasi sistemik (ke seluruh tubuh). Pembuluh darah mengangkut darah ke dan dari jantung; arteri membawa darah beroksigen menjauh dari jantung, sementara vena mengembalikan darah terdeoksigenasi ke jantung. Kapiler adalah pembuluh darah terkecil tempat pertukaran gas dan nutrisi terjadi pada tingkat seluler.

Siklus jantung melibatkan sistol (kontraksi) dan diastol (relaksasi), menghasilkan detak jantung yang teratur. Tekanan darah adalah gaya yang diberikan darah pada dinding pembuluh darah, dan sangat penting untuk perfusi organ. Faktor-faktor seperti volume darah, resistensi vaskular perifer, dan kekuatan kontraksi jantung mempengaruhi tekanan darah.

1.2. Kondisi Medis Umum Kardiovaskular

Berikut adalah beberapa kondisi umum yang sering dijumpai dalam KMB terkait sistem kardiovaskular:

  • Penyakit Jantung Koroner (PJK): Terjadi ketika pembuluh darah koroner yang memasok darah ke jantung menyempit atau tersumbat oleh plak aterosklerotik, menyebabkan iskemia miokard, angina, atau infark miokard (serangan jantung).
  • Gagal Jantung (Heart Failure): Kondisi kronis di mana jantung tidak mampu memompa darah secara efisien untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Ini bisa disebabkan oleh kerusakan otot jantung, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, atau penyakit katup jantung.
  • Hipertensi: Tekanan darah tinggi persisten yang dapat merusak pembuluh darah dan organ dari waktu ke waktu, meningkatkan risiko PJK, stroke, dan gagal ginjal. Seringkali tanpa gejala hingga stadium lanjut.
  • Aritmia (Disritmia): Irama jantung yang tidak teratur, terlalu cepat (takikardia), atau terlalu lambat (bradikardia), disebabkan oleh gangguan pada sistem konduksi listrik jantung. Bisa bermanifestasi ringan hingga mengancam jiwa.

1.3. Pengkajian Keperawatan Kardiovaskular

Pengkajian yang teliti adalah langkah pertama dalam manajemen. Ini mencakup:

  • Anamnesis: Riwayat kesehatan sebelumnya (misalnya, hipertensi, diabetes, merokok), gejala saat ini (nyeri dada, sesak napas, palpitasi, edema, kelelahan), riwayat keluarga, dan penggunaan obat-obatan.
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Inspeksi: Warna kulit (sianosis, pucat), distensi vena jugularis, edema perifer, clubbing finger.
    • Palpasi: Nadi perifer (kekuatan, irama), denyut apeks, edema, suhu kulit.
    • Auskultasi: Bunyi jantung (S1, S2, S3, S4, murmur), bising vaskular (bruit).
  • Pemeriksaan Diagnostik: Elektrokardiogram (EKG), rontgen dada, ekokardiografi, tes darah (troponin, BNP, lipid panel), kateterisasi jantung.

1.4. Intervensi Keperawatan Kardiovaskular

Intervensi berfokus pada stabilisasi, pemulihan, dan pencegahan komplikasi:

  • Manajemen Nyeri: Pemberian obat-obatan sesuai resep (misalnya, nitrat, morfin untuk angina/AMI), posisi nyaman, teknik relaksasi.
  • Peningkatan Perfusi & Oksigenasi: Pemberian oksigen, pemantauan tanda-tanda vital, keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian obat-obatan (antihipertensi, diuretik, vasodilator).
  • Pencegahan Komplikasi: Pendidikan tentang modifikasi gaya hidup (diet rendah garam/lemak, olahraga, berhenti merokok), kepatuhan pengobatan, pemantauan efek samping obat, pencegahan trombosis.
  • Edukasi Pasien: Mengenai penyakit, pengobatan, tanda dan gejala yang harus diwaspadai, pentingnya kontrol rutin.

2. Sistem Respirasi

Sistem respirasi bertanggung jawab untuk pertukaran gas, yaitu mengambil oksigen dari udara dan mengeluarkan karbon dioksida dari tubuh. Sistem ini terdiri dari saluran napas atas dan bawah, paru-paru, dan otot-otot pernapasan. Gangguan pada sistem ini dapat menyebabkan masalah serius dalam oksigenasi dan eliminasi karbon dioksida, yang memengaruhi fungsi organ vital lainnya.

2.1. Anatomi & Fisiologi Saluran Pernapasan

Saluran napas atas meliputi hidung, faring, laring, dan trakea. Saluran napas bawah terdiri dari bronkus, bronkiolus, dan alveoli di dalam paru-paru. Paru-paru adalah organ utama pertukaran gas, dilindungi oleh pleura. Diafragma dan otot interkostal adalah otot utama yang terlibat dalam proses pernapasan, bekerja untuk mengubah volume rongga dada dan menciptakan gradien tekanan yang memungkinkan udara masuk dan keluar dari paru-paru.

Pertukaran gas terjadi di alveoli, di mana oksigen berdifusi dari udara alveolar ke dalam kapiler darah dan karbon dioksida berdifusi dari darah ke udara alveolar untuk dikeluarkan. Proses ini sangat efisien berkat area permukaan alveoli yang luas dan dinding kapiler yang sangat tipis. Pengaturan pernapasan terutama dikendalikan oleh pusat pernapasan di batang otak, yang merespons perubahan kadar O2 dan CO2 dalam darah.

2.2. Kondisi Medis Umum Respirasi

Berikut adalah beberapa kondisi umum yang sering dijumpai dalam KMB terkait sistem respirasi:

  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK): Kelompok penyakit paru progresif yang menghambat aliran udara dan menyebabkan kesulitan bernapas. Ini meliputi bronkitis kronis (batuk produktif persisten) dan emfisema (kerusakan alveoli). Merokok adalah penyebab utama.
  • Asma Bronkial: Penyakit saluran napas kronis yang ditandai oleh peradangan dan hiperresponsivitas bronkus, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan mukosa, dan produksi lendir berlebihan. Gejala meliputi mengi, batuk, sesak napas, dan dada terasa sesak.
  • Pneumonia: Infeksi yang menyebabkan peradangan kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru, yang dapat terisi cairan atau nanah. Penyebabnya bisa bakteri, virus, atau jamur. Gejala meliputi batuk, demam, menggigil, dan kesulitan bernapas.
  • Tuberkulosis (TBC): Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, terutama menyerang paru-paru. Gejala meliputi batuk berkepanjangan, demam, penurunan berat badan, dan keringat malam. Memerlukan pengobatan antibiotik jangka panjang.

2.3. Pengkajian Keperawatan Respirasi

Pengkajian yang akurat sangat penting untuk diagnosis dan rencana intervensi:

  • Anamnesis: Riwayat merokok, paparan alergen/iritan, penyakit paru sebelumnya, riwayat keluarga, gejala saat ini (sesak napas, batuk, nyeri dada, sputum, mengi), dan penggunaan obat-obatan.
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Inspeksi: Frekuensi, irama, kedalaman pernapasan, penggunaan otot bantu napas, sianosis, bentuk dada (barrel chest pada PPOK).
    • Palpasi: Fremitus taktil, ekspansi dada, nyeri tekan.
    • Perkusi: Bunyi sonor (normal), dullness (efusi pleura, konsolidasi), hiperresonansi (emfisema, pneumotoraks).
    • Auskultasi: Bunyi napas normal (vesikuler, bronkovesikuler, bronkial), bunyi napas tambahan (rales/krepitasi, ronki, mengi/wheezing, pleural friction rub).
  • Pemeriksaan Diagnostik: Rontgen dada, CT scan, analisis gas darah (AGD), spirometri, kultur sputum, bronkoskopi.

2.4. Intervensi Keperawatan Respirasi

Intervensi bertujuan untuk memulihkan fungsi pernapasan optimal:

  • Peningkatan Jalan Napas & Oksigenasi: Posisi semi-Fowler/Fowler, pemberian oksigen sesuai indikasi, terapi nebulisasi/inhalasi, fisioterapi dada, suctioning, hidrasi adekuat.
  • Manajemen Sekret: Latihan batuk efektif, hidrasi, mukolitik.
  • Pencegahan Infeksi: Vaksinasi (influenza, pneumokokus), cuci tangan, isolasi (jika diperlukan untuk TBC).
  • Edukasi Pasien: Teknik penggunaan inhaler, pentingnya berhenti merokok, pemicu asma, tanda-tanda perburukan, kepatuhan pengobatan, dan rehabilitasi paru.

Kesimpulan

Peran perawat dalam KMB pada sistem kardiovaskular dan respirasi sangat krusial. Dengan pemahaman yang mendalam tentang anatomi, fisiologi, patofisiologi, serta keterampilan pengkajian dan intervensi yang tepat, Anda dapat memberikan asuhan yang efektif, meningkatkan kualitas hidup pasien, dan mencegah komplikasi. Ingatlah untuk selalu menerapkan pendekatan holistik dan berpusat pada pasien dalam setiap tindakan keperawatan Anda. Teruslah belajar dan memperbarui pengetahuan Anda, karena bidang KMB terus berkembang dengan cepat.

Uji Pemahaman

#1
Seorang pasien laki-laki berusia 65 tahun dirawat di ICU dengan Infark Miokard Akut (IMA). Pasien mengeluh nyeri dada hebat, menjalar ke lengan kiri dan rahang. Hasil EKG menunjukkan elevasi segmen ST di lead II, III, aVF. Tekanan darah 90/60 mmHg, Nadi 110x/menit, RR 24x/menit. Apakah tindakan keperawatan prioritas pertama yang harus dilakukan perawat?
#2
Seorang perawat sedang mengkaji pasien wanita 45 tahun dengan asma bronkial yang mengalami serangan akut. Pasien tampak sesak, menggunakan otot bantu pernapasan, dan terdengar wheezing bilateral. Hasil saturasi oksigen 8%. Manakah diagnosis keperawatan yang paling tepat untuk pasien ini?
#3
Seorang pasien laki-laki 70 tahun dengan riwayat PPOK dirawat karena eksaserbasi akut. Pasien tampak dispnea, batuk produktif, dan sianosis sentral. Perawat akan melakukan kolaborasi pemberian terapi oksigen. Berapa target saturasi oksigen yang tepat untuk pasien PPOK kronis?
#4
Seorang pasien wanita 5 tahun mengalami Gagal Jantung Kongestif (GJK). Perawat merencanakan edukasi untuk pasien dan keluarga mengenai manajemen GJK di rumah. Hal penting apa yang harus ditekankan oleh perawat terkait tanda dan gejala perburukan GJK?
#5
Seorang pasien laki-laki 48 tahun mengeluh nyeri dada substernal yang menjalar ke bahu kiri dan rahang sejak 2 jam yang lalu. Pasien tampak pucat, berkeringat dingin, dan gelisah. Pemeriksaan fisik: TD 130/85 mmHg, Nadi 100x/menit, RR 20x/menit. Apakah tindakan kolaboratif yang paling tepat dilakukan perawat selanjutnya?