Sebuah pusat seni pertunjukan berencana menggelar festival monolog yang mengangkat tema-tema dari kidung (syair keagamaan Bali). Penyelenggara ingin agar monolog tersebut bisa menyentuh isu-isu sosial kontemporer. Sebagai sutradara yang berpengalaman di dunia teater, bagaimana Anda akan menerapkan kritik sastra untuk memastikan monolog tetap relevan dengan kidung aslinya namun juga relevan dengan isu sosial saat ini?