Sebuah perusahaan perhotelan di Bali berencana mencetak papan informasi penting di area publik hotel, termasuk "Pura Keluarga" dan "Wantilan", menggunakan Aksara Bali. Desainer grafis mencetak tulisan "Pura Keluarga" menjadi "Pura Kalawarga" dan "Wantilan" menjadi "Wanlan". Manajer Operasional meninjau hasil cetakan dan menemukan kesalahan yang berpotensi membingungkan tamu serta mengurangi nilai estetika budaya. Sebagai seorang ahli tata bahasa Bali di tim tersebut, tindakan korektif apa yang paling tepat Anda rekomendasikan untuk memastikan penulisan Aksara Bali sesuai kaidah dan standar perusahaan?